This Author published in this journals
All Journal Artika
Benny Muhdaliha
Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Maskulinitas Urban Dystopian Dalam Film Pengepungan di Bukit Duri Dito Oktavian; Benny Muhdaliha
Artika Vol. 10 No. 1 (2026): Juli 2026
Publisher : Center for Research and Community Service, Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34148/artika.v10i1.1520

Abstract

Film sebagai media komunikasi visual berfungsi tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang representasi yang mereproduksi nilai, ideologi, dan konstruksi sosial melalui elemen sinematik seperti gestur, ekspresi wajah, kostum, tata cahaya, komposisi visual, dan pengembangan karakter. Salah satu isu penting dalam kajian budaya visual adalah representasi maskulinitas, yang dipahami bukan sebagai identitas biologis semata, melainkan sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui relasi kuasa, pengalaman sosial, serta dinamika budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi maskulinitas urban dystopian pada karakter Edwin dan Jefri dalam film Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar, yang menghadirkan narasi kekerasan, trauma, konflik identitas, dan disintegrasi sosial yang merefleksikan kompleksitas kehidupan masyarakat urban dystopian. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi terhadap adegan yang merepresentasikan kedua karakter, dianalisis menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengidentifikasi makna tanda visual, serta pendekatan Manga Matrix untuk mengkaji konstruksi visual karakter dari aspek bentuk, kostum, dan kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maskulinitas direpresentasikan secara multidimensional melalui karakter yang realistis, brutal, dan sarat konflik psikologis; Edwin merepresentasikan maskulinitas reflektif yang berupaya mempertahankan nilai moral di tengah situasi represif, sedangkan Jefri merepresentasikan maskulinitas dominatif yang dibentuk oleh kekerasan, trauma, dan perebutan kuasa. Representasi tersebut memperlihatkan bahwa maskulinitas urban dystopian merupakan hasil negosiasi antara tekanan lingkungan, relasi kekuasaan, dan krisis identitas yang dialami individu dalam ruang sosial yang penuh ketidakstabilan.