Komarudin Sassi
Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah (UQI) Indralaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fasād dan Overdevelopment: Tafsir Ekologis QS. Ar-Rūm: 41 atas Krisis Peradaban Kontemporer Julita; Komarudin Sassi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2252

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi QS. Ar-Rūm ayat 41 terhadap fenomena overdevelopment dan krisis peradaban modern kontemporer melalui pendekatan tafsir ekologis. Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat langsung dari perbuatan manusia yang melampaui batas, sehingga relevan dijadikan pijakan teologis dalam membaca krisis lingkungan saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data primer digali dari Al-Qur’an dan literatur tafsir klasik serta kontemporer, terutama Tafsir Ibnu Katsir, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Al-Qurthubi, dan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur multidisipliner yang membahas ekologi Islam, modernitas, dan krisis lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep fasād dalam QS. Ar-Rūm ayat 41 memiliki cakupan makna yang multidimensi. Kerusakan tersebut tidak terbatas pada realitas fisik seperti degradasi ekosistem dan pencemaran, tetapi juga merambah pada dimensi sosial, moral, dan spiritual. Dalam konteks ini, fenomena overdevelopment yang ditandai oleh eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, industrialisasi yang tercerabut dari kerangka etis, serta dominasi paradigma materialistik dan konsumerisme, merupakan manifestasi modern dari fasād yang diisyaratkan ayat tersebut. Penelitian ini menegaskan perlunya integrasi nilai-nilai transendental, etika lingkungan yang kokoh, serta revitalisasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi guna merumuskan paradigma pembangunan alternatif yang bersifat holistik, berkelanjutan, dan berkeadaban.