Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analyzing Collaborative Governance in Tourism Development: A Case Study of Karampuang Island, West Sulawesi Muhammad Idris; Yusuf Anwar; Alam Tauhid Syukur; Nur Afifah Mustamin
Jurnal Borneo Administrator Vol. 21 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Pusjar SKPP Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24258/jba.v21i3.1707

Abstract

Tourism is a strategic sector for regional development; however, the management of flagship destinations in developing regions frequently encounters challenges related to weak stakeholder coordination, limited infrastructure, and insufficient community participation. Karampuang Island in West Sulawesi possesses significant natural and cultural tourism potential, yet its development has not been optimally managed due to low inter-agency synergy and limited stakeholder engagement. This study aims to analyze the implementation of the pentahelix collaborative governance model, comprising government, private sector, academia, community or non-governmental organizations, and media, in the development of Karampuang Island as a tourism destination. A qualitative descriptive approach was employed, using in-depth interviews, field observations, and document analysis. The findings indicate that cross-sector collaboration has contributed to improvements in accessibility and public facilities, as reflected in the construction of Plaza Karampuang and the establishment of twelve micro, small, and medium enterprise kiosks. Nevertheless, formal coordination mechanisms remain weak due to the absence of inter-agency memorandums of understanding, limiting sustained collaboration. Private sector involvement in promotion and investment is still minimal, while academic contributions are largely confined to community service programs. Community participation has increased through the Tourism Awareness Group, although communication with government actors remains suboptimal. Media actors have actively promoted the destination, yet digital marketing strategies have not been maximized. In conclusion, the pentahelix model has the potential to strengthen tourism governance on Karampuang Island, provided it is supported by formal coordination platforms, community capacity building, and integrated digital marketing strategies to ensure sustainable tourism development and local community welfare.
Evaluasi pemanfaatan data ASPAK untuk perencanaan dan pemeliharaan SPAK di RSUD Haji Makassar Ira Ekawati; Sulaeman Fattah; Alam Tauhid Syukur
Jurnal Bisnis Mahasiswa Vol 6 No 5 (2026): Jurnal Bisnis Mahasiswa
Publisher : PT Aksara Indo Rajawali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60036/jbm.1439

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan data Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan (ASPAK) dalam mendukung perencanaan serta pemeliharaan sarana, prasarana, dan alat kesehatan (SPAK) di RSUD Haji Makassar. Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan evaluasi yang mengadopsi model evaluasi berorientasi keputusan (decision-oriented evaluation) dari Stufflebeam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan (direktur, kepala bagian perencanaan, kepala IPSRS, tenaga elektromedis, pengurus barang pengguna, dan 13 kepala ruangan/unit) serta studi dokumentasi. Analisis data melalui lima tahap: pengumpulan, reduksi, penyajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan dengan teknik pengodean (coding) tematik dan verifikasi melalui triangulasi sumber. Temuan – Data ASPAK telah dimanfaatkan sebagai sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan, namun belum berfungsi sepenuhnya sebagai single source of truth. Temuan paling krusial adalah Bagian Perencanaan tidak memiliki akses langsung ke ASPAK dan harus memperoleh data melalui koordinasi dengan IPSRS, yang berdampak pada keterlambatan dan potensi ketidaksesuaian informasi dalam tata kelola data. Pada aspek perencanaan, data digunakan untuk identifikasi kebutuhan, usulan pengadaan, analisis kesenjangan standar, dan pemenuhan akreditasi. Pada aspek pemeliharaan, data kondisi alat, usia teknis, dan status kalibrasi menjadi dasar jadwal pemeliharaan preventif, korektif, kalibrasi, serta penggantian alat melalui pendekatan condition-based maintenance. Terdapat empat faktor penentu optimalisasi: kualitas data, tata kelola data, integrasi sistem informasi, dan kapasitas SDM. Keterbatasan penelitian – Penelitian hanya dilakukan di satu rumah sakit daerah sehingga generalisasi terbatas. Pendekatan kualitatif belum mengukur hubungan antarvariabel secara kuantitatif, serta belum melibatkan Dinas Kesehatan sebagai validator eksternal. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan mixed methods dengan model evaluasi HOT-Fit, DeLone and McLean, atau TOE Framework. Implikasi – Secara praktis, hasil menjadi dasar manajemen RSUD Haji Makassar memperkuat tata kelola data ASPAK melalui pembaruan real-time, audit kualitas berkala, pemberian akses terbatas kepada Bagian Perencanaan, integrasi dengan SIMRS dan sistem inventaris aset, serta pengembangan dashboard manajemen. Secara teoritis, memperkaya kajian evaluasi sistem informasi kesehatan di Indonesia terkait implementasi ASPAK sebagai decision support system berbasis Evidence-Based Management. Kebaruan – Menghasilkan model konseptual baru mengenai hubungan kualitas data, tata kelola data, integrasi sistem informasi, dan kapasitas SDM dalam memengaruhi efektivitas pemanfaatan ASPAK, serta mengangkat temuan kritis mengenai ketiadaan akses langsung Bagian Perencanaan terhadap sistem yang berdampak pada tata kelola data rumah sakit.