Nur Fadilah Hanifah
Universitas Sriwijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Mental Accounting Theory In Explaining Asymmetric Tax Compliance Toward Income Tax and Value Added Tax Among Non-Incorporated Self-Employed Individuals Nur Fadilah Hanifah; Deya Winanda; Mukhtaruddin
Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (Jebma) Vol. 6 No. 1 (2026): Article Research Maret 2026
Publisher : Yayasan Cita Cendikiawan Al Khwarizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jebma.v6i1.8117

Abstract

Latar belakang: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Mental Accounting Theory (MAT) dalam menjelaskan kepatuhan pajak yang bersifat asimetris terhadap Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada individu pekerja mandiri yang tidak berbadan hukum. Kelompok ini mencakup pemilik usaha perseorangan, pekerja lepas (freelancer), dan pelaku usaha mikro yang beroperasi tanpa entitas hukum terpisah serta secara langsung bertanggung jawab atas pengelolaan pendapatan, arus kas, dan kewajiban perpajakan tanpa mekanisme pemotongan pihak ketiga. Perbedaan karakteristik pengelolaan keuangan tersebut diduga memengaruhi cara mereka memandang dan memenuhi kewajiban pajak. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA. Sebanyak 60 artikel yang terindeks di Scopus dan SINTA pada periode 2020–2026 dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi pola konseptual dan temuan empiris terkait penerapan Mental Accounting Theory dalam konteks kepatuhan pajak. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa akuntansi mental secara signifikan membentuk cara wajib pajak mengategorikan kewajiban pajaknya secara kognitif. Pajak Penghasilan umumnya dipersepsikan sebagai pengurangan langsung terhadap pendapatan pribadi sehingga memicu loss aversion dan resistensi psikologis. Sebaliknya, Pajak Pertambahan Nilai sering kali diperlakukan sebagai bagian dari arus kas usaha akibat tidak adanya pemisahan mental yang konsisten antara dana pajak dan dana operasional. Perbedaan persepsi ini menghasilkan pola kepatuhan yang asimetris, seperti keterlambatan pembayaran, penggunaan sementara dana pajak untuk kebutuhan operasional, serta variasi tingkat kepatuhan sukarela. Kesimpulan: Penelitian ini memperkuat relevansi Mental Accounting Theory dalam kajian perpajakan perilaku dengan menunjukkan bahwa struktur kognitif wajib pajak berperan penting dalam membentuk perilaku kepatuhan yang berbeda terhadap jenis pajak yang berbeda. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi perumusan kebijakan perpajakan yang lebih adaptif terhadap pola pikir dan struktur kognitif wajib pajak pekerja mandiri non-badan hukum, sehingga strategi peningkatan kepatuhan dapat dirancang secara lebih efektif dan kontekstual.
PENGARUH PRAKTIK ESG DAN INVESTMENT DECISION-MAKING TERHADAP SUSTAINABILITY PERFORMANCE DENGAN GREEN INNOVATION SEBAGAI VARIABEL MODERASI: SEBUAH STUDI LITERATUR REVIEW Adhiya Mizvi; Nur Fadilah Hanifah; Rela Sari
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 8 No. 6 (2025): COSTING : Journal of Economic, Bussines and Accounting
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/b6rd3n59

Abstract

Penelitian ini secara sistematis meninjau dan mensintesis bukti empiris mengenai pengaruh praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) dan pengambilan keputusan investasi terhadap kinerja keberlanjutan, dengan inovasi hijau dikaji sebagai faktor moderasi. Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dipandu oleh PRISMA, lima puluh artikel relevan yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 dan mayoritas terindeks Scopus serta Web of Science dianalisis secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ESG dan keputusan investasi berorientasi keberlanjutan umumnya memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keberlanjutan. Namun, beberapa studi menunjukkan temuan yang tidak konsisten, mengindikasikan adanya variasi kontekstual antar industri dan wilayah. Inovasi hijau secara konsisten berperan sebagai moderator yang memperkuat, sehingga meningkatkan hubungan positif antara ESG dan hasil keberlanjutan. Stakeholder Theory muncul sebagai landasan teori yang paling dominan dalam menjelaskan hubungan tersebut. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi prinsip ESG dengan strategi inovasi hijau untuk mencapai nilai keberlanjutan jangka panjang. Bagi praktisi, perusahaan didorong untuk mengadopsi pendekatan ESG dan inovasi secara simultan guna memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan. Bagi investor, menilai kapasitas inovasi hijau suatu perusahaan sangat penting dalam mengevaluasi komitmen ESG dan potensi kinerja masa depannya.