Abstract. Community-based da'wah movements offer an important alternative for nurturing religious faith among youth amid changing social dynamics. This study examines how Majelis Madani youth construct meaning toward the da'wah movement led by KH. Dudi Muttaqien and explains the meaning-making process shaped by subjective experience and social interaction. Employing a qualitative design grounded in Alfred Schutz’s social phenomenology, the research focuses on youth actively engaged in Majelis Madani activities. Primary data were collected through in-depth interviews and documentation and analyzed via data reduction, thematic categorization, and phenomenological interpretation, attending to lifeworld, stock of knowledge, motives for action, and intersubjectivity. Findings indicate that KH. Dudi Muttaqien’s da'wah is understood as a dialogical, humanistic, and contextual form of religious mentoring that promotes self-reflection, attitudinal change, and strengthened religious awareness among youth. The study concludes that da'wah functions as a social practice shaping religious awareness and identity and recommends developing models for youth development. Abstrak. Gerakan dakwah berbasis komunitas menjadi alternatif strategis dalam pembinaan keagamaan pemuda di tengah dinamika sosial yang terus mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi makna pemuda Majelis Madani terhadap gerakan dakwah KH. Dudi Muttaqien serta memahami proses pemaknaan yang terbentuk melalui pengalaman subjektif dan interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sosial Alfred Schutz. Subjek penelitian adalah pemuda yang aktif mengikuti kegiatan dakwah di Majelis Madani. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, pengelompokan tema, dan interpretasi fenomenologis dengan menelaah dunia kehidupan, stok pengetahuan, motif tindakan, dan proses intersubjektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah KH. Dudi Muttaqien dimaknai sebagai proses pendampingan keagamaan yang dialogis, humanis, dan kontekstual, sehingga mendorong refleksi diri, perubahan sikap, serta penguatan kesadaran keberagamaan pemuda. Pendekatan dakwah nonformal dan relasi egaliter menempatkan pemuda sebagai subjek aktif dalam proses pemaknaan. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah berfungsi sebagai praktik sosial yang membentuk kesadaran dan identitas religius pemuda secara berkelanjutan.