Susilawati Susilawati
English Literature Study Program, Universitas Bina Sarana Informatika

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Written Corrective Feedback in EFL Writing: A Human-Machine Comparison Susilawati Susilawati; Arrizqi Ramadhan; Nurhasanah Halim; Retno Dwigustini; Ali Satri Efendi
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 8, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v8i2.31437

Abstract

Abstract: Human-written corrective feedback (HWCF) and automated written corrective feedback (AWCF) are trusted to benefit students’ writing in English as a Foreign Language (EFL) course in higher education. This study analyzed the different impacts offered by both types of feedback on students' EFL writing. A systematic literature review with a PSALSAR framework was employed, involving 11 articles with the following inclusion criteria: the articles are taken from the Scopus database; the focus is on the EFL courses in higher education institutions setting; published between 2020-2025, and can be openly accessed. The findings reveal that both types have a positive and negative impact on students’ writing. Positively, HWCF mostly impacts students’ writing accuracy on revising their composition, including grammar mastery, learning engagement, and conditional metacognitive awareness. However, students’ engagement on HWCF depends on their individual proficiency and the types of feedback delivered (direct or indirect). AWCF is positively beneficial due to its influence on students’ writing accuracy and time efficiency. Nevertheless, AWCF does not have any significant impact on students’ writing quality, and it offers decontextualized feedback. To conclude this research, practical implications for lecturers, university management, and future research are presented.Abstrak: Umpan balik korektif yang ditulis oleh manusia (HWCF) dan umpan balik korektif yang ditulis secara otomatis (AWCF) dipercaya dapat memberikan manfaat bagi penulisan siswa dalam kursus Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) di perguruan tinggi. Penelitian ini menganalisis dampak yang berbeda yang ditawarkan oleh kedua jenis umpan balik tersebut terhadap penulisan EFL siswa. Sebuah tinjauan literatur sistematis dengan kerangka PSALSAR digunakan dalam penelitian ini, dengan melibatkan 11 artikel yang memenuhi kriteria berikut: artikel diambil dari database Scopus; fokus pada kursus EFL di lingkungan pendidikan tinggi; diterbitkan antara tahun 2020-2025, dan dapat diakses secara terbuka. Temuan menunjukkan bahwa kedua tipe tersebut memiliki dampak positif dan negatif terhadap tulisan siswa. Secara positif, HWCF sebagian besar berdampak pada ketepatan siswa dalam merevisi komposisi mereka, termasuk penguasaan tata bahasa, keterlibatan belajar, dan kesadaran metakognitif bersyarat. Namun, keterlibatan siswa dalam HWCF bergantung pada kemampuan individu dan jenis umpan balik yang disampaikan (langsung atau tidak langsung). AWCF bermanfaat secara positif karena pengaruhnya terhadap akurasi penulisan dan efisiensi waktu siswa. Namun demikian, AWCF tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas tulisan siswa, dan memberikan umpan balik yang tidak kontekstual. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, disajikan implikasi praktis untuk dosen, manajemen universitas dan penelitian selanjutnya.
TEL Integration Into the Post-Pandemic Classrooms in the Eyes of Students and Lecturers Sri Yunita; Riadi Darwis; Rina Riniawati; Susilawati Susilawati
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 7, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v7i2.23060

Abstract

Abstrak: Integrasi aplikasi technology-enhanced learning (TEL) di era pascapandemi mendapat perhatian yang intensif. Sebagai pengguna TEL di perguruan tinggi (HEI), perspektif mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan TEL penting untuk diselidiki. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa dan dosen terhadap TEL di era pascapandemi. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mencari jawaban atas sudut pandang tersebut. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 12 orang mahasiswa dan 1 orang dosen program studi manajemen salah satu perguruan tinggi swasta di Garut, Jawa Barat, Indonesia. Sebanyak 12 pertanyaan diajukan kepada dosen, sementara 5 pertanyaan diajukan kepada mahasiswa. Data hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan analisis tematik. Para mahasiswa secara dominan menyatakan pandangan positif mereka terhadap penerapan TEL meskipun mereka masih memperhitungkan umpan balik negatif mengenai masalah teknis, sikap belajar, dan interaktivitas. Dosen juga menyampaikan pandangan positifnya terhadap penggunaan TEL di kelasnya, namun ia menyoroti kendala teknis, kurangnya pelatihan mahasiswa untuk menggunakan aplikasi TEL, dan dukungan universitas terhadap penggunaan TEL dalam proses pembelajaran. Studi saat ini menyimpulkan bahwa secara umum TEL dipandang bermanfaat baik oleh mahasiswa maupun dosen dengan menggarisbawahi beberapa permasalahan penting yang harus ditangani, dan merekomendasikan partisipasi dari manajemen universitas untuk mendukung penggunaan teknologi di lingkungan mereka dengan menyediakan facilitas yang memadai dan pelatihan pengembangan bagi dosen dan mahasiswa.Abstract: Integrating technology-enhanced learning (TEL) applications in the post-pandemic era has received intensive concern. As the users of TEL in higher education institutions (HEIs), students' and lecturers' perspectives on using TEL are significant to investigate. The current study intends to explore students’ and lecturers’ views of TEL in the post-pandemic era. A qualitative descriptive method was employed to seek the answers of the viewpoints. In-depth interviews were administered to 12 students and 1 lecturer from a management study program of a private university in Garut, West Java, Indonesia. A total of 12 questions were posed to the lecturer, while 5 questions were directed to the students. The data from the interviews were analyzed using thematic analysis. The students dominantly expressed their positive viewpoints of TEL applications although they still reckoned negative feedback regarding technical issues, learning attitude, and interactivity. The lecturer conveyed her positive view of using TEL in her classroom, yet, she highlighted technical issues, students’ lack of training to use TEL applications, and university support on the use of TEL in the learning process. The current study concludes that generally TEL is viewed as beneficial both by the students and the lecturer by underscoring some crucial issues to handle, and recommends participation from university management to support technological use in their environment by providing adequate facilities and development training for lecturers and students.