Salmah Fa’atin
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINJAUAN TERHADAP BATAS MINIMAL USIA NIKAH DALAM UU NO.1/1974 DENGAN MULTIPRESPEKTIF Salmah Fa'atin
YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Vol 6, No 2 (2015): YUDISIA
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/yudisia.v6i2.1466

Abstract

A review of the provisions of the minimum age limit for marriage contained in Article 7 paragraph 1 of Act 1 of 1974 is important, given the Qur’an as a source of law does not provide clear information in this regard. Almost all jurists’ four schools allows marriage under the age standard set forth in the provisions of Article 7 paragraph 1 of Law No. 1 of 1974, even Syafi’iyah schools, the majority of schools in Indonesia, allowing the marriage of women at the age of 9 years. While the minimum age to marry provisions contained in the Act, in the perspective of psychology including adolescent age category immature physically and psychologically. While the minimum age to marry provisions contained in the Act, in the perspective of psychology including adolescent age category immature physically and psychologically. Therefore a systematic study on the issue carried out by multi-perspective, the context of the concept of jurisprudence, law material itself and psychological approaches.
Haji Dua Kali: Kajian terhadap Motif Pengulangan Haji Masyarakat Muslim di Kudus Salmah Faatin
FIKRAH Vol 7, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7166.133 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v7i1.4296

Abstract

Salah satu fenomena seputar haji yang layak mendapatkan perhatian adalah maraknya pengulangan haji di kalangan masyarakat Indonesia. Meningkatkan frekuensi haji akhir-akhir ini menjadi trend dan gaya hidup. Beberapa penelitian menegaskan bahwa fenomena pengulangan haji senyatanya telah memberikan dampak negatif dalam berbagai sektor kehidupan. Bahkan disinyalir telah muncul beragam problem dan kesenjangan dalam ranah realitas dan normativitas berhaji. Motif dan spiritualitas berhaji disinyalir telah keluar dari substansi pensyariatan haji. Penelitian ini bertujuan mengungkap fenomena pengulangan haji masyarakat muslim di Kudus serta mengetahui apa saja motif masyarakat muslim Kudus mengulangi ibadah haji. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi untuk mengidentifikasi dan menggambarkan fenomena pengulangan haji, karena penelitian ini menjelaskan pengalaman hidup informan yang dimaknai secara subjektif oleh mereka sendiri serta mencari inti dari makna pengalaman yang dialami oleh individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengulangan haji di kalangan masyarakat muslim Kudus disebabkan faktor politik, ekonomi dan sosial keagamaan. Motif mengulang haji di kalangan masyarakat muslim Kudus dikaji dan dianalisis menggunakan pendekatan psikologi dan sosiologi, selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk reinterpretasi dan rekonstruksi pemaknaan masyarakat terhadap ibadah haji yang humanis sebagaimana ideal moral pensyariatannya.