Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Father Involvement Terhadap Career Adaptability pada Remaja di MAN 1 Padang Lathifah Mahfudzah; Murisal; Dewi Fitriana
Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Al-Amin Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : STAI AL-AMIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54723/ejpgmi.v5i1.595

Abstract

Career readiness during adolescence is a crucial issue in developmental psychology, as this stage requires individuals to adapt to various future career demands and choices. One of the psychological resources that plays an important role in career readiness is career adaptability, which refers to an individual’s ability to plan, control, explore, and develop confidence in career-related decisions. Family factors, particularly father involvement, are believed to contribute significantly to the development of adolescents’ career adaptability. This study aims to examine the level of father involvement, the level of career adaptability, and the effect of father involvement on career adaptability among adolescents at MAN 1 Padang. This research employed a quantitative approach with a causal-comparative design. The participants consisted of 269 students of MAN 1 Padang selected using purposive sampling. Data were collected using the Father Involvement Scale and the Career Adaptability Scale (CAAS). Data analysis was conducted using descriptive statistics and simple linear regression analysis. The results indicated that adolescents’ career adaptability was predominantly in the high category (83.8%), while father involvement was also mostly in the high category (57.7%). Regression analysis revealed that father involvement had a positive and significant effect on career adaptability (p < 0.05), with a contribution of 12.8%. These findings suggest that father involvement plays an important role as a protective factor in the development of adolescents’ career adaptability.
Hubungan Self Disclosure dengan Kepercayaan Diri Remaja Pengguna Second Account pada Media Sosial Instagram di Kota Padang Latifa Ramadhani; Murisal; Fadhilah
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): December : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v3i4.897

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena penggunaan media sosial Instagram yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, di mana mereka sering kali memanfaatkan fitur multiple account untuk menciptakan second account sebagai ruang berekspresi yang lebih bebas, personal, dan privat guna menghindari penilaian negatif atau standar estetika di akun utama. Keterbukaan diri (self-disclosure) yang dilakukan melalui akun kedua ini diduga memiliki kaitan erat dengan tingkat kepercayaan diri remaja, karena ruang tersebut memberikan rasa aman dalam berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat self-disclosure, tingkat kepercayaan diri, serta menguji hubungan antara self-disclosure dengan kepercayaan diri pada remaja pengguna second account Instagram di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional terhadap 347 remaja Kota Padang berusia 10–22 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-disclosure dan skala kepercayaan diri yang dianalisis dengan teknik korelasi Pearson Product Moment melalui program SPSS 20.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat self-disclosure dalam kategori sedang sebesar 66,6% dan tingkat kepercayaan diri dalam kategori sedang sebesar 80,1%. Berdasarkan uji hipotesis, ditemukan nilai koefisien korelasi sebesar 0,417 dengan signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-disclosure dengan kepercayaan diri. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan remaja dalam melakukan pengungkapan diri secara selektif di second account, maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan diri mereka. Kesimpulannya, second account berfungsi sebagai mekanisme koping sosial yang mendukung perkembangan psikologis remaja dalam mengelola emosi dan membangun kepercayaan diri yang stabil.
Gambaran Kemandirian Personal Hygiene Anak Tunagrahita Klasifikasi Sedang di SLB Gema Insani Padang Widia Violana Putri; Murisal; Fadhilah
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1032

Abstract

Anak tunagrahita merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan intelektual yang dapat mempengaruhi perkembangan anak mulai dari kemampuan belajar, komunikasi dan interaksi dengan lingkungan termasuk perkembangan kemandiriannya. Kemandirian personal hygiene adalah salah satu bentuk kemandirian yang di ajarkan kepada anak saat usia prasekolah. Namun berbeda dengan anak tunagrahita yang merupakan anak yang memiliki intelektual dibawah rata-rata sehingga menyebabkan terhambatnya seluruh tahap perkembangannya termasuk perkembangan kemandiriannya sehingga tetap membutuhkan bantuan hingga usia dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran kemandirian personal hygiene anak tunagrahita sedang di SLB Gema Insani Padang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan dua orang guru sebagai informan utama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis dari Miles dan Huberman yang terdiri dari empat tahapan; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemandirian personal hygiene anak tunagrahita sedang sangat dipengaruhi oleh jenjang pendidikan dan fase perkembangan. Terdapat perbedaan signifikan antara siswa SMP SMA dengan siswa SD dalam memahami urutan aktivitas kebersihan diri. Upaya peningkatan kemandirian dilakukan oleh guru melalui Program Khusus (Progsus) dengan metode modelling, praktik langsung, serta penggunaan media visual seperti video animasi. Keberhasilan kemandirian juga sangat bergantung pada kerjasama antara guru dan orang tua melalui komunikasi intensif via buku catatan khusus dan aplikasi pesan singkat. Namun, hambatan yang ditemukan meliputi keterbatasan intelektual anak, kurangnya kesabaran orang tua yang cenderung membantu anak agar pekerjaan cepat selesai, serta faktor ekonomi keluarga yang membatasi waktu pendampingan di rumah.