Nurhilmah Nurhilmah
STIT Syamsul Ma'arif Bontang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Upaya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bontang Selatan dalam Memberikan Pendidikan Pranikah kepada Remaja Akibat Fenomena Marriage is Scary Nurhilmah Nurhilmah
NABAWI: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): Nabawi: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma'arif Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena konten viral “Marriage is Scary” di media sosial telah memengaruhi cara pandang remaja terhadap pernikahan dengan menimbulkan berbagai kekhawatiran terkait tanggung jawab, kondisi ekonomi, dan kehidupan rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendidikan pranikah sebagai sarana memberikan pemahaman yang benar, komprehensif, dan berkelanjutan mengenal kehidupan berkeluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai bagaimana upaya Kantor Urusan Agama (KUA) Bontang Selatan dalam memberikan pendidikan pranikah kepada remaja sebagai respons terhadap fenomena “Marriage is Scary” serta mengetahui hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya Kantor Urusan Agama (KUA) Bontang Selatan dalam memberikan pendidikan pranikah dilakukan melalui program Bimbingan Perkawinan (BIMWIN). Program bimbingan tersebut bertujuan memberikan bekal pengetahuan, pemahaman, keterampilan komunikasi, kemampuan menyelesaikan konflik, serta kesiapan mental kepada calon pengantin mengenai kehidupan rumah tangga yang harmonis berdasarkan nilai-nilai keagamaan, tanggung jawab, dan saling menghormati. Kesimpulan menunjukkan bahwa upaya Kantor Urusan Agama (KUA) Bontang Selatan dalam memberikan pendidikan pranikah kepada remaja telah berjalan dengan baik melalui program Bimbingan Perkawinan (BIMWIN). Adapun hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu pelaksanaan akibat efisiensi anggaran, serta rendahnya motivasi dan kesadaran peserta dalam mengikuti bimbingan. Hambatan tersebut menyebabkan penyampaian materi menjadi kurang optimal dan tingkat partisipasi peserta belum maksimal.