Adiasri Putri Purbantina
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Governance of the Volkswagen Group's Global Value Chain in Europe from 2019 to 2025 Muhammad Nur Rahardiansyah Ramadhan; Swettie Ayu Calista; Thufailah Bilqiis; Adiasri Putri Purbantina
MEC-J (Management and Economics Journal) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Economics, State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mec-j.v10i1.40373

Abstract

This study examines the governance structure of the Volkswagen Group’s global value chain in Europe from 2019 to 2025. This period is marked by intensified environmental regulation in the European automotive sector, with stricter emission-reduction targets and accelerated decarbonization strategies. Existing research on Volkswagen’s supply chain focuses on operational efficiency, production systems, and technological innovation, but pays limited attention to how environmental regulatory pressure shapes value chain governance in advanced manufacturing, even though global value chain theory suggests that regulatory pressure typically encourages firms to reorganize production networks through relocation strategies. However, Volkswagen Group presents an anomaly, as its production network remains highly centralized in Europe despite increasing regulatory pressure in the region. To address this gap, the study analyzes how governance structures within Volkswagen’s value chain under regulatory requirements. The research uses a qualitative design based on content analysis of secondary data, which includes company reports, sustainability reports, press releases, and academic publications. The Global Value Chain governance framework guides the assessment of transaction complexity, codification capability, and supplier capability. Findings indicate that Volkswagen’s value chain governance is best characterized as modular. This is reflected in high transaction complexity through JIT systems and product differentiation, strong codification capability via standardized supplier requirements and digital communication systems, and high supplier capability among technologically advanced suppliers
Analisis Foreign Aid Tiongkok Pada Pembangunan Infrastruktur Pakistan: Studi Kasus Proyek Multan-Sukkur Motorway di Bawah China Pakistan Economic Corridor (CPEC) Tahun 2016-2019 Fahira Maharani; Mizan Sa'roni; Revalina Febrizya Fachrany; Adiasri Putri Purbantina
NeoRespublica : Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol. 7 No. 3 (2026): Agustus (In Press)
Publisher : Program Studi Ilmu Pemerintahan, FISIP - Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/neores.v7i3.1287

Abstract

China Pakistan Economic Corridor (CPEC)  merupakan salah satu proyek strategis Belt and Road Initiative (BRI) yang mendorong pembangunan infrastruktur Pakistan melalui dukungan pembiayaan dari Tiongkok. Meskipun berbagai penelitian telah membahas CPEC, kajian yang secara khusus menganalisis karakter foreign aid. Tiongkok pada proyek Multan-Sukkur Motorway masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi foreign aid Tiongkok pada pembangunan Proyek Multan-Sukkur Motorway dalam kerangka China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder yang berasal dari dokumen resmi pemerintah Pakistan, China Eximbank, CPEC Authority, AidData, serta berbagai publikasi ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan kerangka 4P Foreign Aid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter foreign aid Tiongkok tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan pinjaman konsesional, tetapi juga melalui pengadaan barang dan jasa yang didominasi perusahaan Tiongkok, pengendalian implementasi proyek melalui kontraktor Tiongkok, serta pengaruh terhadap pengelolaan fiskal dan pembayaran utang Pakistan. Hal ini meunjukkan bahwa bantuan luar negeri Tiongkok merupakan bentuk bantuan berbasis infrastruktur yang mengintegrasikan kepentingan pembangunan negara penerima dengan kepentingan ekonomi dan strategis negara donor.