Maira Dinta Kusuma
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FENOMENA PILIHAN BAHASA DALAM FILM BUMI MANUSIA: ANALISIS SOSIOLINGUISTIK TERHADAP CAMPUR KODE DAN ALIH KODE: Fillia Soffia, Azka Hayunna Bilqisty, Maira Dinta Kusuma, Imam Baehaqie Fillia Soffia; Azka Hayunna Bilqisty; Maira Dinta Kusuma; Imam Baehaqie
Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2026): JUBINDO: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berupaya menganalisis fenomena pilihan bahasa dalam film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo melalui kajian sosiolinguistik yang berfokus pada alih kode, campur kode, dan variasi tunggal bahasa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik, sedangkan data berupa dialog antartokoh dalam film yang dihimpun melalui teknik simak dan catat. Hasil penelitian memperlihatkan tiga fenomena utama, yaitu alih kode (intern dan ekstern), campur kode (ke dalam, ke luar, dan campuran), serta variasi tunggal bahasa. Alih kode yang ditemukan mencerminkan fungsi identitas, solidaritas sosial, hingga resistensi terhadap kekuasaan kolonial. Campur kode yang muncul menunjukkan fungsi ekspresif, prestise, serta pemenuhan kebutuhan leksikal. Adapun variasi tunggal bahasa memperlihatkan penyesuaian ragam bahasa berdasarkan situasi sosial, status, dan tujuan komunikasi antartokoh. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan bahasa dalam film Bumi Manusia tidak bersifat netral, melainkan merepresentasikan dinamika sosial, identitas, serta relasi kekuasaan dalam masyarakat kolonial. Bahasa, hal mana terlihat dari ragam pilihan yang digunakan para tokoh, berperan bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai simbol ideologis dan strategi sosial dalam menegosiasikan posisi mereka di tengah struktur kolonial.