This Author published in this journals
All Journal Asas: Jurnal Sastra
Nur Lailiyah Lailiyah
Universitas Nusantara PGRI Kediri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Kolom Komentar Tiktok Terkait Kebijakan Listrik Oleh Prabowo Subianto: Tiktok Sebagai Arena Kritik Politik Fika Nuraini; Wahyu Resty Novi Yanti Novi Yanti; Aulya Nur Al Faresa Al Faresa; Damas Airlangga Malindo Malindo; Nur Lailiyah Lailiyah
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/t8v6pe91

Abstract

Media sosial terutama Tiktok menjadi ruang publik yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, penyampaian kritik tersebut sering kali mengabaikan prinsip kesantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahsa dalam komentar TikTok terkait kebijakan listrik oleh Prabowo Subianto serta mengidentifiksi Maksim kesantunan yang paling dominan dilanggar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kajian pragmatik berdasarkan teori prinsip kesantunan Geoffrey Leech. Data berupa komentar warganet pada akun TikTok Warta Banjar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak, catat, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 26 data pelanggaran prinsip kesantunan yang terdiri atas pelanggaran maksim kebijaksanaan (6 data), maksim kedermawanan (4 data), maksim kesimpatian (5 data), maksim kesepakatan (3 data), maksim pujian (5 data), dan maksim kerendahan hati (3 data). Pelanggaran maksim kebijaksanaan menjadi bentuk yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa TikTok berfungsi sebagai arena kritik politik, tetapi ekspresi kritik cenderung disampaikan secara emosional dan kurang memperhatikan kesantunan berbahasa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kajian pragmatik serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkomunikasi secara santun di media sosial.