Daniel Sudibyo Tjandra
Sekolah Tinggi Teologi IKAT, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gereja sebagai komunitas formatif: Landasan teologis untuk etika pendidikan Kristiani Daniel Sudibyo Tjandra
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1072

Abstract

Contemporary Christian education faces a fundamental challenge in grounding its ethical dimension within a coherent theological framework. This article argues that the church as a formative community provides the essential theological foundation for ethics in Christian education. Through library research with conceptual analysis, this study demonstrates that moral formation cannot be reduced to individual cognitive processes but requires embedding within ecclesial practices and communal narratives. The framework integrates four dimensions: ecclesiological identity, communal moral formation, the dialectic between personal piety and social responsibility, and pedagogical implications. This reconceptualization shifts Christian education from mere knowledge transmission toward transformative character formation within the believing community. The article concludes that effective ethical education requires pedagogical designs rooted in the church's formative practices and narrative identity.   Abstrak Pendidikan Kristiani kontemporer menghadapi tantangan mendasar dalam melandasi dimensi etisnya pada kerangka teologis yang koheren. Artikel ini berargumen bahwa gereja sebagai komunitas formatif menyediakan fondasi teologis yang esensial bagi etika dalam pendidikan Kristiani. Melalui penelitian kepustakaan dengan analisis konseptual, studi ini menunjukkan bahwa formasi moral tidak dapat direduksi menjadi proses kognitif individual, melainkan memerlukan penanaman dalam praktik-praktik gerejawi dan narasi komunal. Kerangka ini mengintegrasikan empat dimensi: identitas eklesiologis, formasi moral komunal, dialektika kesalehan pribadi dan tanggung jawab sosial, serta implikasi pedagogis. Rekonseptualisasi ini menggeser pendidikan Kristiani dari sekadar transmisi pengetahuan menuju formasi karakter transformatif dalam komunitas beriman. Artikel menyimpulkan bahwa pendidikan etis yang efektif memerlukan desain pedagogis yang berakar pada praktik-praktik formatif dan identitas naratif gereja.
Harmoni Sains dan Iman Kristen: Teori Relativitas Einstein Dalam Pandangan Kristen Di Era Modern dan Implikasinya Bagi Kehidupan Orang Kristen Daniel Sudibyo Tjandra
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.330

Abstract

This article aims to discuss Albert Einstein's exploration of relativity theory in the context of the Bible and its implications for the lives of Christians. Where many people consider the theory of relativity to be contrary to the Word of God. However, in fact this is not the case. The Bible provides examples in stories such as Judas' betrayal and Peter's denial to demonstrate the concept of relativity in human life. Einstein changed the world's ideas about motion, space, and time with his theory that developed relationships and comparisons between things and others. Einstein's theory of relativity explains that the speed of light is absolute, while space and time combine to give humans space and time to move. The method used is descriptive qualitative. The results of the study show that the theory of relativity does not conflict with the Bible. This theory has implications in contemporary theology. The theory of relativity applies to His creation, not to God. Christians are taught to have a strong belief in the eternity and truth of God, as well as an open heart to continue learning and growing in faith. God's truth remains unchanged even though the world and human views can be relative. For Christians, it is important to align faith with scientific discovery, so that faith and science can complement each other.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas eksplorasi teori relativitas Albert Einstein dalam konteks Alkitab dan implikasinya bagi kehidupan orang Kristen. Di mana banyak orang menganggap teori relativitas bertentangan dengan Firman Allah. Namun, faktanya tidak demikian. Alkitab memberikan contoh-contoh dalam kisah-kisah seperti penghianatan Yudas dan penyangkalan Petrus untuk menunjukkan konsep relativitas dalam kehidupan manusia. Einstein mengubah gagasan dunia tentang gerak, ruang, dan waktu dengan teorinya yang berkembang dalam hubungan dan perbandingan antara sesuatu dengan yang lain. Teori relativitas Einstein menjelaskan bahwa kecepatan cahaya adalah mutlak, sementara ruang dan waktu bersatu untuk memberi manusia ruang dan waktu bergerak. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori relativitas tidak bertentangan dengan Alkitab. Teori ini memiliki implikasi dalam teologi kontemporer. Teori relativitas berlaku bagi ciptaan-Nya, bukan bagi Allah. Orang Kristen diajarkan untuk memiliki keyakinan yang kuat pada kekekalan dan kebenaran Allah, serta keterbukaan hati untuk terus belajar dan bertumbuh dalam iman. Kebenaran Allah tetap tidak berubah meskipun dunia dan pandangan manusia bisa relatif. Bagi orang Kristen, penting untuk menyelaraskan iman dengan penemuan ilmiah, sehingga iman dan ilmu pengetahuan dapat saling melengkapi.