In Bowen Family Systems Theory, emotional cutoff describes managing unresolved attachment to the family of origin through distance or severance. However, research on estrangement between parents and adult children shows that distance, though sometimes reactive, may protect against abuse, boundary violations, or identity rejection. This integrative-critical review of Bowen theory, estrangement and family communication research, intergenerational studies, and Christian counseling on forgiveness identifies three problems. First, relational form does not adequately explain emotional function. Second, differentiation of self is best assessed through anxiety regulation, self-positioning, reflection on one's systemic contribution, and boundary-setting rather than contact frequency. Third, reconciliation-oriented theology becomes problematic when forgiveness is treated as an obligation to restore relational access without safety, accountability, and reciprocity. The study proposes a heuristic category, "differentiated protective distance," and four clinical tests: distance function, affect organization, safety accountability, and reciprocity. It thereby distinguishes emotional cutoff from estrangement as a social form and grounds Christian relational counseling oriented toward healing without enforced reconciliation. Abstrak Konsep emotional cutoff dalam Teori Sistem Keluarga Bowen menjelaskan pengelolaan keterikatan yang belum terselesaikan dengan keluarga asal melalui jarak atau pemutusan hubungan. Namun, riset tentang keterasingan orang tua dan anak dewasa menunjukkan bahwa jarak tidak selalu bersifat reaktif, tetapi dapat berfungsi secara protektif dalam relasi yang ditandai dengan kekerasan, pelanggaran batas, atau penolakan identitas. Tinjauan pustaka integratif-kritis atas Teori Bowen, riset keterasingan dan komunikasi keluarga, studi antargenerasi, serta konseling Kristen tentang pengampunan menyingkap tiga persoalan. Pertama, bentuk relasi saja tidak cukup untuk menjelaskan fungsi emosionalnya. Kedua, diferensiasi diri semestinya dinilai dari regulasi kecemasan, pengambilan posisi diri, refleksi atas kontribusi dalam sistem, dan penetapan batas, bukan dari frekuensi kontak. Ketiga, orientasi teologis rekonsiliatif menjadi problematis ketika pengampunan dijadikan kewajiban untuk memulihkan akses relasional tanpa keselamatan, akuntabilitas, dan resiprositas. Kajian ini mengusulkan kategori heuristik "jarak protektif terdiferensiasi" dan empat uji klinis: fungsi jarak, organisasi afek, keamanan-akuntabilitas, serta kapasitas pemulihan relasi timbal balik. Kontribusinya ialah memisahkan emotional cutoff dari keterasingan relasional sebagai bentuk sosial sekaligus mendasari konseling relasional Kristen yang memulihkan tanpa memaksakan rekonsiliasi.