Jamaluddin Hos
Pascasarjana, Universitas Halu Oleo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pembangunan Modal Manusia Masyarakat Desa di Kabupaten Konawe Kepulauan melalui Program Beasiswa Wawonii Cerdas Aldi Aldi; Jamaluddin Hos
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 1 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i1.1088

Abstract

Pembangunan sumber daya manusia masyarakat desa merupakan aspek penting dalam pembangunan perdesaan, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses pendidikan. Pendidikan tinggi dipandang sebagai investasi modal manusia yang dapat meningkatkan kapasitas individu sekaligus mendorong perubahan sosial di tingkat komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Program Beasiswa Wawonii Cerdas dalam pembangunan sumber daya masyarakat desa di Kabupaten Konawe Kepulauan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan ditentukan secara purposive, meliputi mahasiswa penerima beasiswa, keluarga mahasiswa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta pengelola program beasiswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Beasiswa Wawonii Cerdas berperan dalam menurunkan hambatan ekonomi pemuda desa untuk melanjutkan pendidikan tinggi serta mendorong perubahan aspirasi pendidikan di tingkat keluarga dan masyarakat desa. Program ini berfungsi sebagai bentuk investasi publik daerah dalam penguatan modal manusia, yang bekerja pada level individu, keluarga, dan komunitas desa. Meskipun demikian, efektivitas program masih menghadapi tantangan, terutama terkait keterbatasan komponen bantuan yang masih berfokus pada UKT, ketepatan waktu pencairan, serta kesenjangan akses administrasi di wilayah desa kepulauan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Beasiswa Wawonii Cerdas memiliki kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia desa, namun memerlukan penguatan sistem dan keberlanjutan kebijakan agar manfaat jangka panjang investasi pendidikan dapat lebih optimal.
Struktur Sosial Ekonomi Petani Lokal dan Masyarakat Pendatang dalam Ketertinggalan Ekonomi di Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan Muhammad Imam Alif Wansyah Mangidi; Jamaluddin Hos
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 1 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i1.1089

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur sosial-ekonomi petani lokal dan masyarakat pendatang dalam ketertinggalan ekonomi di Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya ketimpangan kesejahteraan petani di wilayah pedesaan meskipun sektor pertanian menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat. Perbedaan latar belakang sosial, akses sumber daya, serta strategi pengelolaan pertanian diduga membentuk struktur sosial-ekonomi yang tidak setara antara petani lokal dan masyarakat pendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan penelitian terdiri atas petani lokal, petani pendatang atau transmigrasi, serta pengurus kelompok tani. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perspektif teori Pierre Bourdieu, khususnya konsep modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural, untuk memahami posisi sosial-ekonomi petani dalam struktur pedesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pendatang cenderung memiliki modal ekonomi yang relatif lebih baik melalui kepemilikan lahan dan pengelolaan usaha pertanian yang lebih intensif. Dari sisi modal sosial, keterlibatan aktif dalam kelompok tani memberikan akses terhadap bantuan, pelatihan, dan jaringan kelembagaan. Selain itu, petani pendatang juga menunjukkan modal kultural yang lebih kuat melalui kemampuan menerima dan menerapkan teknologi pertanian. Sebaliknya, petani lokal masih menghadapi keterbatasan dalam permodalan, jaringan sosial, dan penguasaan pengetahuan pertanian. Perbedaan penguasaan modal tersebut membentuk struktur sosial-ekonomi yang tidak setara dan mereproduksi ketertinggalan ekonomi petani lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketertinggalan ekonomi petani di Kecamatan Buke merupakan fenomena struktural yang dipengaruhi oleh distribusi modal yang tidak merata.
Dari Keraguan ke Keyakinan: Transformasi Pemikiran Masyarakat Desa Madodo tentang Budidaya Bawang Merah di atas perbukitan berbatu Minim Air Sulaiman Sulaiman; Jamaluddin Hos
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 1 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i1.1091

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi pemikiran masyarakat Desa Madodo, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, terkait budidaya bawang merah di atas perbukitan berbatu minim air. Permasalahan utama yang diangkat adalah kuatnya persepsi masyarakat mengenai keterbatasan lahan dan sumber air yang selama ini dianggap tidak memungkinkan pengembangan komoditas bernilai ekonomi, serta bagaimana perubahan persepsi tersebut terjadi melalui pengalaman empiris, interaksi sosial, dan dukungan kelembagaan desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai dinamika perubahan pemikiran Masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pemikiran masyarakat berlangsung melalui lima tahapan difusi inovasi menurut Rogers, yaitu pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Percobaan awal budidaya bawang merah oleh petani pelopor, keberhasilan panen, serta keterlibatan BUMDes Tangka Liwu melalui pemanfaatan Dana Ketahanan Pangan Desa menjadi faktor kunci yang mematahkan keyakinan lama masyarakat mengenai keterbatasan lahan berbatu. Interaksi sosial antarpetani dan pengamatan langsung terhadap hasil tanaman mempercepat penerimaan inovasi secara kolektif. Selain meningkatkan minat masyarakat untuk kembali mengembangkan pertanian, inovasi ini membuka peluang ekonomi baru yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan rumah tangga. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa budidaya bawang merah di Desa Madodo telah berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi lahan lokal dan membuktikan bahwa keterbatasan ekologis bukan menjadi hambatan bagi pengembangan pertanian bernilai ekonomi. Transformasi pemikiran yang terjadi menunjukkan pentingnya peran bukti empiris, modal sosial, dan dukungan kelembagaan desa dalam mendorong adopsi inovasi pertanian di wilayah perdesaan.
Modal Sosial Petani dalam Pengelolaan Irigasi Partisipatif: Studi pada Program GEMAS AIR KONAWE di Kabupaten Konawe Sukmawati Sukmawati; Jamaluddin Hos
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 1 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i1.1092

Abstract

Penelitian mengenai modal sosial petani dalam pengelolaan irigasi partisipatif melalui Program GEMAS AIR KONAWE di Kabupaten Konawe sangat penting dilakukan untuk menjelaskan bagaimana dinamika sosial petani memengaruhi keberhasilan pemeliharaan jaringan irigasi serta bagaimana hubungan sosial tersebut mendukung efektivitas inovasi lokal dalam penyediaan layanan air pertanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memahami secara mendalam dinamika modal sosial petani dalam pengelolaan irigasi partisipatif melalui Program GEMAS AIR KONAWE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan irigasi partisipatif melalui Program GEMAS AIR KONAWE berjalan efektif karena ditopang oleh tiga elemen utama modal sosial, yaitu kepercayaan (trust), norma sosial (social norms), dan jaringan sosial (social networks). Ketiga unsur ini bekerja secara simultan dan saling menguatkan sehingga program mampu menjawab tantangan kerusakan jaringan irigasi, keterbatasan anggaran, serta kebutuhan pemeliharaan yang berkelanjutan.