Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang meningkat seiring bertambahnya usia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi hipertensi mencapai 57,8% pada usia 65-74 tahun dan 64,0% pada kelompok usia ≥75 tahun. Terapi hipertensi pada lansia memerlukan pemilihan antihipertensi yang tepat karena perubahan fisiologis dan multimorbiditas. Data mengenai karakteristik pasien lansia dengan hipertensi masih diperlukan untuk mendukung perencanaan pelayanan kesehatan serta pengelolaan hipertensi yang lebih tepat di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik demografi, derajat hipertensi, komorbiditas, dan terapi antihipertensi pada pasien lansia dengan hipertensi di Puskesmas Sindangagung, Kuningan, Jawa Barat. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis 181 pasien yang dipilih melalui total sampling. Data dianalisis secara univariat menerapkan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berusia 60–69 tahun (64,1%), berjenis kelamin perempuan (65,7%), berpendidikan sekolah dasar (26,0%), tidak bekerja (25,4%), dan berstatus menikah (32,6%). Sebanyak 82,3% pasien mengalami hipertensi tahap 2, 11,6% memiliki diabetes melitus, 1,7% menderita penyakit jantung, dan 65,2% menerima monoterapi amlodipin. Disimpulkan bahwa pasien lansia dengan hipertensi di Puskesmas Sindangagung didominasi oleh perempuan, berusia 60-69 tahun, berpendidikan sekolah dasar, dan mengalami hipertensi tahap 2. Sebagian besar pasien tidak memiliki komorbiditas yang tercatat, sedangkan amlodipin merupakan terapi antihipertensi yang paling banyak digunakan. Temuan penelitian ini memberikan data dasar bagi perencanaan pelayanan kesehatan serta optimalisasi pengelolaan hipertensi di fasilitas pelayanan kesehatan primer.