Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Di Balik Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Potret Ketidakadilan Gender dan Pengorbanan Perempuan Winka Winka; Anis Pitri Nurjakia; Dhea Astri Agusni
Alusi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): Alusi: Kajian Bahasa dan Sastra serta Pembelajaran Bahasa Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/alusi.v2i1.3640

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena beban kerja ganda berbasis gender sebagaimana digambarkan dalam novel "Dompet Ayah Sepatu Ibu" karya Khairen (2024). Masalah sentral terletak pada ketidakadilan gender sistemik di mana tokoh perempuan memikul tanggung jawab simultan di ranah domestik-reproduktif dan publik-produktif, yang berakar pada stereotip patriarki yang kaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manifestasi beban ganda tersebut dan dampaknya terhadap tokoh utama, Zenna, melalui lensa kerangka ketidakadilan gender. Dengan menggunakan metodologi deskriptif-kualitatif melalui pendekatan kritik sastra feminis, penelitian ini melibatkan pembacaan mendalam dan analisis isi narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zenna mengalami perpanjangan jam kerja yang ekstrem, kelelahan fisik-psikologis, dan marginalisasi diri, mulai dari masa remaja sebagai siswa yang bekerja hingga masa dewasa sebagai istri dan pencari nafkah. Temuan mengungkapkan bahwa metafora "Dompet" dan "Sepatu" menyimbolkan ketimpangan kekuasaan, identitas laki-laki dikaitkan dengan status, sementara identitas perempuan terikat pada pengorbanan sunyi. Pengorbanan ini sering kali diromantisasi sebagai bentuk pengabdian, yang sebenarnya menyembunyikan penindasan di baliknya. Implikasi dari studi ini menunjukkan bahwa pencapaian kesetaraan gender memerlukan lebih dari sekadar akses ekonomi bagi perempuan; hal ini menuntut redistribusi struktural peran domestik dan dekonstruksi peran gender yang dianggap "alami". Penelitian ini berkontribusi pada diskursus mengenai sastra merefleksikan kelelahan sistemik perempuan dalam masyarakat patriarki, serta mendorong pergeseran dari sekadar meromantisasi penderitaan menuju transformasi sosial yang autentik.