Abstract. This study employs spatial modeling to examine the Floor Area Ratio (FAR)—a vertical spatial variable representing space utilization intensity—as it is governed by the capacity and performance of the road network, which acts as a linear spatial component. In Parepare City, the road network serves as a spatial constraint that determines maximum FAR thresholds for specific zones, thereby preventing the overloading of public space. The study utilizes a quantitative methodology involving peak-period traffic surveys and spatial analysis (FAR) across four major corridor zones. Most road segments currently operate at Level of Service (LoS) A or B, indicating substantial reserve capacity. However, roadside friction significantly reduces effective capacity; Zone I (West Bacukiki District) was identified as a critical point, reaching LoS C (Stable Flow-Approaching Instability) and exhibiting the highest Volume-to-Capacity (V/C) ratio. Regression analysis reveals a strong positive correlation between increased development intensity (FAR) and the degradation of road performance (V/C ratio). The model predicts that to maintain LoS C, the recommended average FAR value should not exceed 1.3. These findings underscore the necessity for strict FAR controls and adaptive integration between land-use policies and performance-based transportation planning. Abstrak. Penelitian ini adalah pemodelan spasial, yang bertujuan untuk mengetahui Koefisien Lantai Bangunan (KLB) sebagai variabel spasial vertikal (intensitas pemanfaatan ruang) yang dikendalikan oleh kapasitas dan kinerja jaringan jalan sebagai komponen spasial linier. Jaringan jalan di Kota Parepare berfungsi sebagai pembatas spasial (spatial constraint) dalam menentukan ambang batas maksimal KLB pada tiap zonasi tertentu, guna mencegah terjadinya beban berlebih (overload) pada ruang public di Kota Parepare. Dengan metodologi kuantitatif, survei lalu lintas pada periode puncak dan analisis spasial (KLB) di empat zona koridor utama. Mayoritas ruas jalan masih beroperasi pada Tingkat Pelayanan (LoS) A hingga B, mengindikasikan kapasitas cadangan yang substansial. Namun, hambatan samping secara signifikan mereduksi kapasitas efektif, dengan Zona I (Kecamatan Bacukiki Barat) teridentifikasi sebagai titik kritis yang mencapai LoS C (Arus Stabil – Mulai Tertekan) dan V/C Ratio tertinggi. Model analisis regresi berkorelasi positif yang kuat antara peningkatan intensitas pembangunan (KLB) dan degradasi kinerja jalan (V/C Ratio). Model ini memprediksi bahwa untuk mempertahankan LoS C, Pada nilai rata-rata KLB yang direkomendasikan tidak melampaui 1,3. Temuan ini menyoroti perlunya pengendalian KLB yang ketat dan integrasi adaptif antara kebijakan tata guna lahan dan transportasi berbasis kinerja.