Problematika penggunaan bahasa daerah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi isu yang semakin urgen di tengah tuntutan penguasaan bahasa baku pada jenjang pendidikan menengah. Interferensi bahasa lokal yang terjadi secara terus-menerus tidak hanya memengaruhi kemampuan menulis siswa, tetapi juga menimbulkan dilema pedagogik bagi guru dalam menyeimbangkan aspek preskriptif dan ekspresif bahasa. Penelitian ini mengkaji problematika pembelajaran Bahasa Indonesia dari dimensi sosiolinguistik dan pedagogik di SMA Negeri 18 Makassar. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini secara spesifik menyoroti kuatnya penetrasi dialek Melayu Makassar terhadap penguasaan sintaksis baku tulis siswa. Pemilihan subjek dilakukan melalui purposive sampling, dan keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil analisis taksonomis terhadap 10 korpus data teks eksposisi siswa menunjukkan tiga level interferensi yang masif: (1) interferensi morfologis berupa substitusi afiksasi baku menjadi prefiks lisan (na-, kasih-); (2) interferensi sintaksis melalui penyisipan multi-klitik (mi, ji, ki); dan (3) interferensi leksikal-fatis (tawwa, ndak). Temuan ini memunculkan dilema pedagogik bagi pendidik antara menjaga preskripsi tata bahasa atau memfasilitasi kelancaran berekspresi. Melalui kerangka sosiokultural, kajian ini merekomendasikan rekayasa pedagogik berbasis translanguaging di mana guru menggunakan teks terinterferensi sebagai instrumen analisis sosiopragmatik di kelas untuk membangun kesadaran register siswa, alih-alih menerapkan pedagogi preskriptif yang menindas.