Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Charisma, Symbols, and Pesantren Nationalism: Mbah Liem and NKRI Harga Mati Aji Baskoro
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v20i2.3253

Abstract

Pesantren play a vital role in shaping social morality, religious authority, and civic orientation in Indonesia, particularly as religious values and nationalism continue to be negotiated in public life. This study aims to analyze how Mbah Liem’s religious authority and nationalist vision were constructed, remembered, and institutionalized through Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti and its social practices. This study employs a systematic qualitative review approach. Data were collected through literature searches on Google Scholar, Garuda, and DOAJ, complemented by backward and forward citation tracking of key sources. The data were analyzed using thematic synthesis through initial coding, thematic grouping, cross study comparison, and the formulation of social mechanisms linking actors, symbols, practices, and social effects. The findings show that pesantren nationalism in the case of Mbah Liem was not produced merely through political slogans, but through charismatic authority, institutional discipline, symbolic production, religious national boundary work, and social networks. The slogan “NKRI Harga Mati” gained its force because it was attached to Mbah Liem’s reputation, repeated within pesantren practices, and validated through wider public encounters. The implication of this study is that the sociology of religion needs to pay closer attention to how charisma, symbols, and institutional practices in pesantren produce civic belonging in Indonesian Muslim society.   Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk moralitas sosial, otoritas keagamaan, dan orientasi kewargaan di Indonesia, terutama ketika nilai agama dan nasionalisme terus dinegosiasikan dalam kehidupan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana otoritas keagamaan dan visi kebangsaan Mbah Liem dikonstruksi, diingat, dan dilembagakan melalui Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti serta praktik sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan kualitatif sistematik. Data dikumpulkan melalui penelusuran literatur pada Google Scholar, Garuda, dan DOAJ, serta dilengkapi dengan backward dan forward citation tracking terhadap sumber kunci. Data dianalisis menggunakan sintesis tematik melalui coding awal, pengelompokan tema, perbandingan lintas studi, dan perumusan mekanisme sosial yang menghubungkan aktor, simbol, praktik, dan efek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme pesantren dalam kasus Mbah Liem tidak hanya dibentuk melalui slogan politik, tetapi melalui otoritas karismatik, disiplin institusional, produksi simbol, kerja batas religius-kebangsaan, dan jejaring sosial. Slogan “NKRI Harga Mati” memperoleh kekuatan karena dilekatkan pada reputasi Mbah Liem, diulang dalam praktik pesantren, dan divalidasi melalui perjumpaan publik yang lebih luas. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya sosiologi agama dalam memahami bagaimana karisma, simbol, dan praktik kelembagaan pesantren memproduksi keterikatan kewargaan dalam masyarakat Muslim Indonesia.
Maqasid al-Shari'ah for Green Business Oversight: Addressing Greenwashing by Design in Indonesia’s Energy Transition Aji Baskoro
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 17 No. 2 (2025): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/az-zarqa.v17.i2.4621

Abstract

Abstract: Greenwashing by design refers to structural misrepresentation embedded within energy transition policies, project planning, and corporate disclosure mechanisms. This phenomenon exposes limitations in sustainability governance in Indonesia’s energy sector, since ESG based regulatory instruments often privilege procedural compliance and quantitative indicators while overlooking deception rooted in policy design and regulatory architecture. This article proposes Maqāṣid al-Sharīʿah (objectives of Islamic law) as a normative ethical framework for evaluating sustainability claims beyond formal compliance, with analytical attention to intention, systemic harm, and distributive justice. Methodologically, the study applies a normative legal research design that combines conceptual and philosophical approaches and relies on secondary sources, including doctrinal Islamic legal texts, critical literature on sustainability governance, and contemporary scholarship on green economics and environmental ethics. Inductive mapping of greenwashing by design practices is integrated with a deductive construction of a maqāṣid-based evaluative model to show how Islamic legal theory can be operationalized for sustainability oversight. Findings indicate that maqāṣid integration shifts greenwashing assessment from a technical issue of disclosure accuracy toward an ethical problem of governance design and accountability. Arguments of this article also repositions maqāṣid al-sharīʿah as a critical normative theory of regulatory governance in Muslim majority settings, strengthening debates on green business regulation. Conceptual scope and the absence of empirical validation remain limitations, so future research should test institutional implementation and sector specific regulatory mechanisms. Abstrak: Fenomena greenwashing by design merujuk pada praktik misrepresentasi yang ditanamkan sejak tahap perancangan kebijakan transisi energi, perencanaan proyek, hingga mekanisme pelaporan korporasi. Berbagai kajian tentang tata kelola menunjukkan instrumen ESG (environmental, social, governance) sering menekankan kepatuhan prosedural dan indikator kuantitatif, sehingga kurang peka terhadap penyesatan yang bekerja pada tingkat desain kebijakan dan arsitektur regulasi. Artikel ini mengajukan Maqāṣid asy-Syarīʿah  sebagai kerangka etik normatif untuk menilai klaim keberlanjutan melampaui kepatuhan formal, melalui perhatian pada niat, kerusakan sistemik, dan keadilan distributif di sektor energi Indonesia. Penelitian menerapkan metode yuridis normatif melalui pendekatan konseptual dan filosofis, berbasis sumber sekunder berupa teks doktrinal hukum Islam, kajian kritis tata kelola keberlanjutan, serta literatur ekonomi hijau dan etika lingkungan. Analisis menggabungkan pemetaan induktif pola greenwashing by design dengan konstruksi deduktif model evaluasi berbasis maqāṣid, guna menunjukkan cara pengoperasian teori hukum Islam sebagai perangkat pengawasan. Hasil kajian memperlihatkan integrasi prinsip maqāṣid menggeser isu greenwashing dari persoalan teknis akurasi pelaporan menjadi problem etis pada desain tata kelola dan akuntabilitas. Kontribusi teoretis memposisikan ulang maqāṣid sebagai teori normatif kritis bagi tata kelola regulatif pada masyarakat mayoritas Muslim, sedangkan kontribusi praktis menawarkan kerangka evaluasi berbasis nilai untuk reformasi regulasi. Batasan studi terletak pada sifat konseptual dan ketiadaan verifikasi empiris, sehingga riset lanjutan perlu menguji implementasi kelembagaan dan mekanisme regulatif sektoral yang lebih operasional.