Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Who Controls Tradition? Religious Authority, Moral Order, And Belonging in Indonesia: The Case of Sambang Punden Ulil Amri; Rachmad Kristiono Dwi Susilo
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v20i2.3749

Abstract

As a multicultural archipelago, Indonesia sustains local traditions that shape collective identity and social order, including the Sambang Punden ritual in Bulukerto Village, East Java, Indonesia. This study examines how Sambang Punden produces religious authority, regulates moral norms, and defines community boundaries through inclusion and exclusion. The research adopts a qualitative design to capture meanings, interactions, and local social dynamics surrounding the ritual. Data were collected through observation of the ritual sequence, in depth interviews, and document review related to the organization and public framing of the practice. Data analysis followed an interactive process of organizing materials, coding key themes, refining interpretations, and triangulating sources, while using the concepts of power and knowledge, discourse, and governmentality as analytical tools. The findings show that the ritual’s authority and legitimacy are produced and sustained through the roles of elders, customary actors, and village authorities, while also being questioned by differing religious interpretations. The study further indicates that participation supports moral regulation through social expectations and informal monitoring, and it marks community membership by distinguishing insiders from those positioned at the margins. The implication of this research is that local rituals should be analysed as sociological mechanisms that generate authority, sustain moral governance, and produce social boundaries in village life.   Sebagai negara kepulauan multikultural, Indonesia memiliki tradisi lokal yang ikut membentuk identitas dan keteraturan sosial, termasuk ritual Sambang Punden di Desa Bulukerto, Jawa Timur, Indonesia. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Sambang Punden menghasilkan otoritas keagamaan, mengatur norma moral, dan membentuk batas komunitas melalui inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif untuk memahami makna, interaksi, dan dinamika sosial di sekitar praktik ritual. Data dikumpulkan melalui observasi rangkaian ritual, wawancara mendalam, dan telaah dokumen yang relevan dengan penyelenggaraan serta pembingkaian ritual. Data dianalisis secara interaktif melalui pengorganisasian data, pengodean tema, penajaman interpretasi, dan triangulasi sumber, dengan konsep relasi kuasa pengetahuan, wacana, dan governmentality sebagai alat bantu analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas dan legitimasi ritual diproduksi dan dipertahankan melalui peran sesepuh, lembaga adat, dan aktor pemerintahan desa, sekaligus diperdebatkan oleh pandangan keagamaan yang berbeda. Temuan juga memperlihatkan bahwa partisipasi ritual mendorong regulasi moral melalui ekspektasi sosial dan pemantauan informal, serta menandai keanggotaan komunitas melalui batas “di dalam” dan “di luar.” Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa ritual lokal dapat dipahami sebagai mekanisme sosiologis yang membentuk otoritas, tata moral, dan batas sosial dalam kehidupan desa.
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Partisipatif dalam Pengelolaan Limbah Diapers di Desa Junrejo Ulil Amri; Oman Sukmana; Rachman Kristiono Dwi Susilo
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 8, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v8i2.5087

Abstract

Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah diapers menjadi langkah strategis untuk merespons meningkatnya permasalahan sampah rumah tangga yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan. Di Desa Junrejo, Kota Batu, limbah diapers teridentifikasi sebagai salah satu jenis sampah dominan yang belum dikelola secara optimal akibat rendahnya pengetahuan ekologis, keterampilan teknis, dan praktik pengelolaan masyarakat. Program Rediapered Action dikembangkan sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif melalui tahapan survei, musyawarah, sosialisasi, pelatihan, dan praktik langsung pengolahan limbah diapers menjadi produk bernilai guna, seperti tas, pot tanaman, dan produk kerajinan lainnya. Kegiatan ini melibatkan masyarakat secara aktif sejak tahap identifikasi masalah hingga implementasi solusi bersama. Evaluasi program dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipatif, diskusi reflektif, dan keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil pemberdayaan menunjukkan adanya indikasi perubahan pemahaman masyarakat terhadap limbah diapers, dari sekadar sampah residu menjadi material yang memiliki potensi guna, serta berkembangnya keterampilan awal dalam pemilahan dan pengolahan limbah. Selain itu, program ini menghasilkan output nyata berupa produk daur ulang yang merepresentasikan transformasi limbah menjadi sumber daya yang lebih produktif. Rediapered Action menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif berpotensi menjadi model intervensi sosial-lingkungan dalam pengelolaan limbah spesifik rumah tangga sekaligus memperkuat kesadaran ekologis, kapasitas teknis, dan potensi ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.  Kata kunci: Desa, Diapers, Pemberdayaan Masyarakat, Sampah