Ridzky Zul Asdi
Universitas Mulawarman, Samarinda

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Produktivitas pada Departemen Produksi dengan Menggunakan Metode OMAX (Objective Matrix) dan AHP (Analytical Hierarchy Process): Studi Kasus: PT XYZ Ageng Deny Setiawan; Muriani Emelda Isharyani; Ridzky Zul Asdi
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 4 No. 2 (2025): Edisi Desember
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v4i2.928

Abstract

Produktivitas dari sebuah sistem industri merupakan kunci dari segalanya. Melalui pengukuran produktivitas, sebuah perusahaan akan memiliki standar yang akan digunakan untuk melakukan perbaikan- perbaikan sistem. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas pada departemen produksi PT XYZ menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dan Analytical Hierarchy Process (AHP), serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas dengan Fishbone Diagram. Latar belakang penelitian didasarkan pada ketidaktercapaian target produksi gas oksigen di beberapa bulan tahun 2024, yang menunjukkan perlunya evaluasi dan perbaikan sistem produksi.  Metode penelitian meliputi pengumpulan data primer dan sekunder, penentuan kriteria produktivitas melalui wawancara, pembobotan indikator dengan AHP, serta perhitungan indeks produktivitas menggunakan OMAX. Hasil penelitian menunjukkan fluktuasi produktivitas dengan indeks tertinggi pada Januari (182,67%) dan terendah pada Mei (-86,33%). Faktor utama yang memengaruhi penurunan produktivitas meliputi ketidakefisienan penggunaan bahan baku, ketidakhadiran karyawan, kerusakan mesin, dan loses yang tinggi.  Berdasarkan analisis Fishbone Diagram, usulan perbaikan yang diberikan mencakup peningkatan perawatan mesin, penerapan sistem reward dan punishment untuk meningkatkan disiplin karyawan, serta pelatihan kerja yang terstruktur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas departemen produksi.   
Penerapan Metode Statistical Quality Control (SQC) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai Upaya Pengendalian Kualitas pada Produk Amplang: Studi Kasus UD XYZ Fitria Diani; Suwardi Gunawan; Ridzky Zul Asdi
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 4 No. 2 (2025): Edisi Desember
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v4i2.939

Abstract

Pengendalian kualitas merupakan faktor penting dalam menjaga mutu produk dan meningkatkan daya saing industri makanan ringan, termasuk produk amplang. UD Taufik Jaya Makmur menghadapi permasalahan tingginya tingkat produk cacat antara lain cacat remuk, tidak mengembang, dan gosong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab cacat, menentukan tingkat risiko tertinggi, serta merumuskan usulan perbaikan guna meminimalkan kecacatan. Metode yang digunakan adalah Statistical Quality Control (SQC) untuk menganalisis jenis dan penyebab cacat melalui lembar pemeriksaan, histogram, peta kendali P, dan diagram sebab-akibat. Analisis lanjutan dilakukan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk memperoleh nilai Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total cacat sebesar 27.937 gram dari total produksi 700.000 gram dalam periode Maret 2025 hingga Mei 2025. Terdapat 18 penyebab cacat dengan 3 risiko prioritas kritis, yaitu cacat remuk disebabkan oleh penanganan kasar saat pemindahan produk dari prnggorengan hingga pengemasan (RPN 240), cacat tidak mengembang disebabkan komposisi bahan baku tidak sesuai standar resep (RPN 216), dan cacat gosong disebabkan pekerja lalai memantau suhu dan waktu pada saat penggorengan (RPN 144) yang disebabkan oleh faktor manusia dan faktor material, yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan rekomendasi usulan perbaikan dengan pendekatan 5W+1H. Usulan perbaikan meliputi penyusunan SOP penanganan produk dan penimbangan bahan baku, pelatihan berkala bagi pekerja, pengawasan rutin, serta penggunaan alat bantu seperti timer dan termometer otomatis untuk memastikan suhu dan waktu penggorengan sesuai standar, guna menjaga kualitas dan konsistensi produk.