Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah desa untuk mengoptimalkan pelayanan publik berbasis digital. Namun, di Desa Parangargo masih ditemukan permasalahan berupa pengelolaan administrasi yang bersifat manual, keterbatasan akses informasi publik, serta rendahnya literasi digital aparatur desa. Kondisi ini menyebabkan pelayanan publik belum berjalan secara efektif, transparan, dan terintegrasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan penerapan Sistem Informasi Desa (SID) berbasis website yang terintegrasi. Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan dan riset; desain dan pengembangan, pelatihan dan peluncuran; serta pendampingan dan keberlanjutan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, dengan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil menunjukkan bahwa penerapan Sistem Informasi Desa (SID) menghasilkan website desa yang fungsional dengan sembilan halaman utama, yakni halaman (1) beranda dengan banner slider dan widget berita; (2) profil dan struktur organisasi desa; (3) layanan publik dengan fitur pengajuan surat secara online; (4) berita dan pengumuman; (5) halaman transparansi untuk publikasi APBDes dan laporan keuangan; (6) katalog UMKM lokal; (7) galeri kegiatan; (8) fitur aspirasi masyarakat; serta (9) panel admin untuk pengelolaan konten. Website juga telah dilengkapi dengan integrasi Google Maps, tampilan responsif yang ramah perangkat seluler, sertifikat SSL untuk keamanan, serta optimasi SEO guna meningkatkan visibilitas dan aksesibilitas. Selain itu, terjadi peningkatan kapasitas aparatur desa dalam mengelola platform digital. Simpulan menunjukkan bahwa penerapan SID berbasis website sangat optimal dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, transparansi informasi, dan tata kelola desa berbasis digital.