Penelitian ini mengkaji peran strategis Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung dalam pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk meningkatkan daya saing pada tahun 2025, dengan fokus pada implementasi digitalisasi pemasaran, sertifikasi produk, peningkatan kapasitas usaha, dan penerapan model kolaborasi multipihak Octa Helix. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles & Huberman (2014), dilengkapi analisis IFAS–EFAS untuk menentukan posisi strategis IKM dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan metode serta validasi informan (member check). Skor IFAS–EFAS masing-masing sebesar 2,70 dan 2,75 menempatkan IKM Kota Bandung pada kuadran strategi pertumbuhan (growth strategy). Fasilitasi digitalisasi meningkat 150% (dari 40 menjadi 100 IKM), cakupan sertifikasi produk tumbuh 52% (dari 125 menjadi 190 IKM), dan realisasi ekspor meningkat menjadi 327,11 juta US$ di tengah tekanan kebijakan tarif global. Model Octa Helix yang melibatkan delapan aktor—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, lembaga keuangan, lembaga pendukung, dan masyarakat—telah diimplementasikan secara efektif dan terbukti memperkuat inovasi, akses pasar, serta keberlanjutan usaha IKM Kota Bandung. Temuan ini menegaskan bahwa kolaborasi multipihak yang terintegrasi merupakan prasyarat utama bagi pemberdayaan IKM yang berkelanjutan. Pengambil kebijakan perlu memprioritaskan percepatan onboarding digital marketing, penyederhanaan prosedur sertifikasi produk, penguatan ekosistem sentra industri, serta formalisasi kerangka kolaborasi Octa Helix guna mempertahankan daya saing IKM di tengah ketidakpastian ekonomi global.This study examines the strategic role of the Department of Trade and Industry (Dinas Perdagangan dan Perindustrian/Disdagin) of Bandung City in empowering Small and Medium Industries (IKM) to improve competitiveness in 2025, with emphasis on digitalization, product certification, capacity-building, and the implementation of the Octa Helix multi-stakeholder collaboration model. A descriptive qualitative approach was employed through in-depth interviews, field observations, and document analysis. Data analysis followed the interactive model of Miles & Huberman (2014), supplemented by IFAS–EFAS analysis to determine strategic positioning and SWOT analysis to formulate development strategies. Data validity was ensured through source and method triangulation. IFAS–EFAS scores of 2.70 and 2.75 respectively place Bandung's IKM in the growth strategy quadrant. Digitalization facilitation increased from 40 to 100 IKM (150%), product certification coverage grew from 125 to 190 IKM (52%), and export realization rose to USD 327.11 million despite global trade pressures. The Octa Helix model—encompassing government, academia, business actors, community, media, financial institutions, supporting institutions, and society—has been effectively operationalized in Bandung's IKM ecosystem and shown to strengthen innovation, market access, and business sustainability. The findings confirm that integrated multi-stakeholder collaboration is essential for sustainable IKM empowerment. Policymakers should prioritize accelerating digital marketing onboarding, streamlining certification procedures, strengthening industrial cluster ecosystems, and formalizing Octa Helix collaboration frameworks to sustain IKM competitiveness in the face of global economic uncertainty.