Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA SIMBOLIK MOTIF KAIN TENUN SEBAGAI WARISAN BUDAYA MASYARAKAT DESA BAYAN Nadia Tulhasanah Hasanah; Nurhaliza Nurhaliza; Septia Ayu Lestari; Maharani Sabila Putri; Ni Kadek Cahya Puspita Sari; Saribanun Saribanun
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 1 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i1.10040

Abstract

ABSTRAK Identitas budaya dan warisan tak benda merupakan pilar penting bagi keberlanjutan masyarakat, di mana seni tekstil tradisional seperti kain tenun Bayan di Lombok Utara memiliki peran krusial. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam menjaga warisan budaya Indonesia ternyata masih kurangnya pemahaman mendalam mengenai makna simbolik yang terkandung dalam motif-motif kain tenun Bayan, padahal makna ini esensial untuk menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Maka dari itu sangat penting untuk mengidentifikasi ragam motif kain tenun Bayan, menginterpretasi makna simbolik di balik setiap motif, dan menganalisis relevansinya dalam konteks budaya serta kehidupan masyarakat Desa Bayan.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan observasi langsung dan wawancara semi-struktural dengan informan kunci di Desa Bayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain tenun Bayan memiliki beragam motif sakral seperti Londong Abang, Rejasa, Karang Lipa, Kereng Poleng, dan Jong, yang masing-masing sarat makna filosofis dan religius. Motif Londong Abang melambangkan kekuatan dan keberanian, Rejasa merepresentasikan keseimbangan manusia dengan alam dan spiritual, Karang Lipa menyimbolkan keteguhan dan perlindungan, Kereng Poleng menggambarkan harmoni hidup, dan Jong menginterpretasikan perjalanan hidup dan hubungan dengan alam gaib. Temuan saintifik menunjukkan bahwa motif-motif ini tidak sekadar hiasan, melainkan media komunikasi simbolik yang merekam sistem nilai, kepercayaan Wetu Telu, dan peran sosial. Pelestarian kain tenun ini dilakukan melalui pola komunikasi antar-generasi, melibatkan anak-anak dan remaja dalam kegiatan menenun di sanggar khusus yang dibina UNESCO, serta didukung oleh komunitas adat.
PENGUATAN BUDAYA LITERASI ANAK MELALUI OPTIMALISASI TAMAN BACA MASYARAKAT DI KELURAHAN RAKAM, LOMBOK TIMUR Trie Rizky Yuliani; Galuh Nuranisa Anggiangraeni; Nanda; Raden Razendra Damarjati; Ni Kadek Cahya Puspita Sari; Aji Saputra; Baiq Refa Sapitri; Mila Aulina Agustin; Arvia Norigina; Ni Kadek Ayu Anggi Mitha; M. Bohri Rohman
Jurnal Pepadu Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Pepadu
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v7i2.11015

Abstract

The low level of reading interest and the suboptimal management of the Community Reading Center (Taman Baca Masyarakat/TBM) in Rakam Village served as the background for implementing a literacy program through the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata/KKN). Initial observations revealed inconsistent visitor attendance and an unsystematically organized book collection, highlighting the need to strengthen literacy culture from an early age. This program aimed to optimize the function of the TBM while enhancing the reading interest and enthusiasm of preschool, elementary, and junior high school students through structured and participatory literacy activities. The program was implemented using a descriptive qualitative approach involving observation, interviews, and documentation. The implementation process included problem identification, collaborative planning with the village government and TBM administrators, program implementation, and evaluation. The results demonstrated positive improvements, including the systematic organization of the book collection, the construction of bookshelves, and the enhancement of the reading space into a more comfortable and attractive learning environment, which contributed to increased visitor attendance. Read-aloud sessions, literacy quizzes, and literacy competitions encouraged active participation, enhanced children's self-confidence, and fostered greater enthusiasm for reading. The evaluation indicated a steady increase in TBM visitor attendance from the first to the fourth week, greater participation of children in read-aloud activities, and increased utilization of book collections that had previously been underused due to inadequate organization. Overall, the program successfully revitalized the role of the TBM as a community literacy center and strengthened a sustainable reading culture in Rakam Village.