This Author published in this journals
All Journal Arnawa
Riki Fernando
Balai Bahasa Provinsi Aceh, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Subalternitas dan Karma Mistis dalam Legenda Pembunuhan di Dusun Cangkring, Yogyakarta Riki Fernando
Arnawa Vol 4 No 1 (2026): Edisi 1
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v4i1.26227

Abstract

This study investigates the concept of mystical karma within the legend of a murder that occurred in Cangkring Hamlet, Bantul, Yogyakarta, during the 1980s. It explores the relationship between subalternity, and mystical karma as presented in the legend's narrative. The research utilizes Hutomo’s oral history methodology, which includes site identification, preliminary observation, literature review, and interviews. Interview recordings were subsequently transcribed into Latin script and translated from Javanese into Indonesian. Data analysis was conducted using the relevant theoretical framework. Given the presence of subaltern issues in the murder case, Spivak’s theory of the subaltern was applied. The legend’s depiction of mystical karma is interpreted as a representational strategy by the Cangkring community to articulate the voice of the murder victim, who is positioned as a subaltern silenced by dominant actors, specifically the perpetrator and complicit law enforcement officials. The community’s interpretation of post-murder mystical events as karmic retribution serves to assert the victim’s innocence and challenge the narrative that labeled the victim a rice thief. Although the perpetrator evaded judicial punishment, the legend ensures that listeners recognize the true nature of the crime and identify the actual perpetrator, thereby reinforcing communal condemnation and deterring future transgressions. === Penelitian ini mengkaji karma mistis yang terdapat dalam legenda pembunuhan di Dusun Cangkring, Bantul, Yogyakarta, pada sekitaran tahun 1980-an. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara masalah subaltern dan karma mistis yang menyertainya dalam keseluruhan cerita legenda? Kemudian metode penelitiannya menggunakan metode cerita lisan dari Hutomo, yaitu dengan mencari informasi lokasi penelitian, observasi awal, pembacaan literatur, dan wawancara. Setelah wawancara dilakukan proses transkrip dari recorder ke tulisan latin dan terjemahan. Dalam konteks ini dilakukan penerjemahan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kemudian setelah mendapatkan data yang diperlukan, dilakukan analisis menggunakan teori yang telah ditentukan. Karena kasus pembunuhan tersebut mengandung masalah subalternitas, maka digunakanlah teori Spivak mengenai subaltern. Selanjutnya, karma mistis yang terdapat dalam legenda juga dikaitkan dengan masalah subalternitas. Hasilnya, unsur karma mistis yang terdapat dalam cerita merupakan salah satu bentuk representasi yang dilakukan masyarakat kolektif di Dusun Cangkring untuk memberikan suara pada korban pembunuhan sebagai subaltern yang suaranya terbungkam oleh kelompok dominan, khususnya si pembunuh dan aparat hukum yang disuap. Untuk merepresentasikan bahwa si korban pembunuhan memang bukan pencuri padi dan tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan keji demikian (baca: dibunuh dan tidak diberi keadilan), masyarakat Cangkring menginterpretasikan hal-hal mistis yang terjadi setelah peristiwa pembunuhan sebagai semacam karma bagi si pelaku pembunuhan. Dengan demikian, karma mistis berfungsi sebagai representasi kolektif atas ketidakadilan yang dialami korban dan peringatan moral bagi generasi berikutnya.