Tuberkulosis paru masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang berat, baik di tingkat nasional maupun global, dengan Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam beban kasus dan estimasi 969.000 kasus baru pada tahun 2022. Kajian ini disusun untuk mengidentifikasi dan merangkum faktor-faktor yang berkaitan dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru berdasarkan literatur Indonesia terbitan 2020-2025, menggunakan pendekatan Systematic literature review yang mengacu pada pedoman PRISMA. Penelusuran pustaka dilakukan pada basis data SINTA dan Scopus untuk terbitan tahun 2020-2026, dan dari 25 artikel yang teridentifikasi pada tahap awal, proses seleksi PRISMA menyisakan 21 artikel studi primer yang lolos kriteria inklusi, dengan penilaian kualitas menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist. Sintesis menunjukkan enam faktor paling konsisten berkaitan dengan kepatuhan pengobatan tuberkulosis, yaitu dukungan keluarga (67% studi; OR=3,51), keaktifan Pengawas Minum Obat (62%; menaikkan kepatuhan 3,0-3,2 kali), motivasi pasien (52%; koefisien mediasi beta=0,775), efek samping Obat Anti Tuberkulosis (52%; penyebab ketidakpatuhan pada 42% kasus), pengetahuan pasien (48%), serta keterjangkauan dan jarak ke fasilitas kesehatan (38%). Analisis Structural Equation Modeling turut memperlihatkan bahwa dukungan keluarga bekerja melalui jalur mediasi motivasi dalam membentuk kepatuhan. Dukungan keluarga dan peran PMO terbukti sebagai penentu paling dominan terhadap kepatuhan pengobatan tuberkulosis di Indonesia, sehingga penguatan dukungan sosial, optimalisasi fungsi PMO, dan pengelolaan proaktif efek samping OAT perlu menjadi prioritas program penanggulangan tuberkulosis nasional demi mencapai target eliminasi tahun 2030.