The human trafficking case in East Nusa Tenggara (NTT) has garnered public attention as it victimizes numerous individuals, particularly women. This phenomenon underscores the severity of the human trafficking issue in the region. One exacerbating factor is the challenging economic conditions in NTT, where many local residents live in poverty and struggle to find suitable employment. This vulnerability makes them susceptible to deception and manipulation by human trafficking syndicates. Additionally, a lack of awareness regarding the dangers of human trafficking is a primary cause of this case. It should be acknowledged that human trafficking is not a contemporary phenomenon but has persisted for hundreds of years. One narrative illustrating involvement in human trafficking is the story of Yusuf (Genesis 37:1-11). Several elements in the Yusuf narrative can be connected to the human trafficking phenomenon. Firstly, Yusuf himself becomes a victim of human trafficking when his brothers sell him as a slave to traders. This reflects a situation commonly found in human trafficking, where individuals become commodities traded for financial gain. In this context, this writing aims to bridge the ancient Biblical text with the continuously evolving contemporary social reality. By viewing the Bible as a source of inspiration and guidance, it is hoped to provide a fresh perspective in understanding and addressing the serious issues present in society today.AbstrakKasus human trafficking di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan publik karena mengorbankan banyak orang, terutama kaum perempuan. Fenomena ini menggambarkan betapa seriusnya masalah perdagangan manusia di wilayah tersebut. Salah satu faktor yang memperparah situasi ini adalah kondisi ekonomi yang sulit di NTT. Banyak penduduk setempat yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan mencari pekerjaan yang layak. Hal ini membuat mereka rentan terhadap penipuan dan manipulasi oleh sindikat perdagangan manusia. Selain itu, kurangnya kesadaran akan bahaya human trafficking juga menjadi penyebab utama kasus ini. Perlu disadari bahwa fenomena human trafficking bukan hanya terjadi masa sekarang, tetapi sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satu narasi yang menggambarkan orang terlibat dalam human trafficking adalah narasi Yusuf (kejadian 37:1-36). Ada beberapa teks kisah Yusuf, terdapat beberapa elemen yang dapat dihubungkan dengan fenomena human trafficking. Pertama, Yusuf sendiri merupakan korban perdagangan manusia ketika saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak kepada para pedagang. Hal ini mencerminkan situasi yang sering terjadi dalam human trafficking, di mana individu menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan untuk keuntungan finansial. Dalam konteks ini, penulisan ini bertujuan untuk menghubungkan teks Alkitab yang kuno dengan realitas sosial kontemporer yang terus berkembang. Dengan melihat Alkitab sebagai sumber inspirasi dan pedoman, diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam memahami dan menghadapi permasalahan serius yang ada di masyarakat saat ini.