Yohanes Jemiandro Bala Kelen
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam Budaya Tenawahang Yohanes Jemiandro Bala Kelen
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13882

Abstract

This study examines the comparison of the concept of divinity in two cultures, Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in the Tenawahang culture. Based on textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the concept of divinity in Israeli culture and Tenawahang culture. The purpose of this study is to identify the similarities and differences between the concept of divinity in the Old Testament and that in Tenawahang culture. The analytical method used in this study is a comparative descriptive analysis of Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in Tenawahang culture. The author collected data using the literature method to examine the concept of divinity in the Old Testament and the field method with interview techniques and the author's experience to examine the concept of divinity in Tenawahang culture. This article examines the comparison of the concept of divinity between the two cultures by seeking similarities and differences between them and conducting a synthesis analysis. Finally, the author found similarities and differences in the concept of divinity in these two cultures. The results of this study indicate that there are similarities between the concept of divinity in the Old Testament and Tenawahang culture. Both the Old Testament and Tenawahang culture adhere to monotheism, a relationship with humanity, and a reverence for life. The differences between the Old Testament and Tenawahang culture lie in names and representations, doctrines and laws, and the concept of the chosen people.AbstrakPenelitian ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan dalam dua budaya, Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan konsep Ketuhanan dalam budaya Israel dan budaya Tenawahang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep Ketuhanan dalam Perjanjian Lama dengan budaya Tenawahang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis deskriptif komparatif terhadap Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode pustaka untuk melihat konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama dan metode lapangan dengan teknik wawancara serta pengalaman penulis untuk melihat konsep ketuhanan dalam budaya Tenawahang. Artikel ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan terhadap kedua budaya tersebut dengan mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya dan melakukan analisis sintesis. Akhirnya penulis menemukan ada persamaan dan perbedaan konsep ketuhanan dalam kedua budaya ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ada persamaan antara konsep ketuhanan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang. Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang sama-sama menganut monoteisme, relasi dengan manusia, dan adanya penghargaan terhadap hidup. Sedangkan perbedaan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang terletak pada nama dan representasi, doktrin dan hukum, serta konsep tentang umat pilihan.
Perbandingan Kambing Azazel dalam Perjanjian Lama dan Witi Lera Wulang dalam Budaya Tenawahang Yohanes Jemiandro Bala Kelen
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14761

Abstract

This study aims to compare the Azazel goat in Leviticus 16 with the Witi Lera Wulang ritual in Tenawahang culture, East Flores, as ritual responses to collective purification and the restoration of cosmic harmony. Employing a qualitative approach with a descriptive-comparative design, the research analyzes primary data drawn from biblical texts and in-depth interviews with Tenawahang customary leaders, alongside secondary data from relevant scholarly publications. The findings reveal that both rituals share functional similarities in their use of a male goat as a medium for transferring collective burdens, the involvement of a ritual mediator, and the ultimate objective of restoring communal equilibrium. However, a fundamental divergence exists in their cosmological orientations: the Azazel rite emphasizes vertical reconciliation with Yahweh through the banishment of sin into the wilderness, symbolizing permanent separation from the divine presence, whereas Witi Lera Wulang prioritizes horizontal reconciliation that harmonizes relationships among humans, nature, and ancestors through a structured slaughtering sequence, communal feasting, and the distribution of blessings (kemie). Theologically and culturally, these results affirm that mechanisms of purification, reconciliation, and moral pedagogy constitute cross-culturally universal responses, while simultaneously underscoring the necessity of preserving the distinctive identity of each tradition within faith-culture dialogues. This study contributes to the advancement of contextual theology and ritual anthropology by offering a critical comparative framework for engaging indigenous knowledge systems and scriptural traditions.AbstrakPenelitian ini bertujuan membandingkan  Kambing Azazel dalam Imamat 16 dengan witi lera wulang  dalam budaya Tenawahang, Flores Timur, sebagai respons ritual terhadap pemurnian kolektif dan restorasi harmoni kosmis. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif, penelitian ini menganalisis data primer dari teks Alkitab dan wawancara mendalam dengan tokoh adat Tenawahang, serta data sekunder dari jurnal ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ritual memiliki kesamaan fungsional dalam penggunaan kambing jantan sebagai medium transfer beban kolektif, peran mediator ritual, dan tujuan akhir berupa pemulihan keseimbangan komunitas. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam orientasi kosmologis; Azazel menekankan pendamaian vertikal dengan Yahweh melalui pengusiran dosa ke padang gurun sebagai simbol pemisahan permanen dari hadirat ilahi, sedangkan Witi Lera Wulang berfokus pada rekonsiliasi horizontal yang menyelaraskan hubungan manusia, alam, dan leluhur melalui siklus penyembelihan terstruktur, makan bersama, dan penyaluran berkat (kemie). Secara teologis-kultural, temuan ini mengonfirmasi bahwa mekanisme pemurnian, rekonsiliasi, dan pedagogi moral merupakan respons universal lintas budaya, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga integritas identitas masing-masing tradisi dalam dialog iman-budaya. Studi ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual dan antropologi ritual dengan menawarkan kerangka komparatif yang kritis terhadap kearifan lokal dan tradisi kitab suci.