nur salami
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Aceh Barat Daya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KONSEP SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN DALAM MENINGKATKAN LIFE SKILL SANTRI: Bahasa Indonesia nur salami
Anatesa : Kajian Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 16 No. 2 (2026): Kajian Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : STIT Muhammadiyah Aceh Barat Daya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membentuk kepribadian dan moral generasi muslim. Di tengah perkembangan zaman, pesantren dituntut tidak hanya mencetak santri yang unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki kecakapan hidup (life skill) sebagai bekal menghadapi persoalan kehidupan nyata setelah menyelesaikan pendidikan. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep sistem pendidikan pondok pesantren dan menganalisis bagaimana sistem tersebut dapat berperan dalam meningkatkan life skill santri. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan (documentary research), yaitu menelusuri, mengumpulkan, dan menganalisis berbagai literatur berupa buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan sistem pendidikan pesantren dan konsep life skill. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem pendidikan pondok pesantren dibangun atas unsur kiai, santri, masjid, asrama, dan pengajaran kitab kuning, serta ditopang oleh prinsip-prinsip seperti keikhlasan, kesederhanaan, kolektivitas, dan kemandirian. Prinsip dan pola kehidupan tersebut secara alami menjadi wahana bagi tumbuhnya empat kategori life skill, yaitu kecakapan personal, sosial, akademik, dan vokasional, melalui jalur kurikuler maupun ekstrakurikuler seperti muhadharah, organisasi santri, dan unit usaha ekonomi pesantren. Namun demikian, penguatan life skill santri masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana prasarana, tenaga pendidik, dan belum terintegrasinya program kecakapan hidup secara sistematis ke dalam kurikulum inti pesantren.