Tony Winata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Arsitektur, Perencanaan, dan Real Estat, Universitas Tarumanagara, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR REGENERATIF UNTUK REVITALISASI KOMUNITAS NELAYAN DAN EKOSISTEM PESISIR CILINCING Florean Ayeisha Augustia; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37072

Abstract

Cilincing Fishermen’s Pier, a core locus of fisheries activity and coastal community life, faces intertwined environmental and social problems that limit quality of life. Developing a new port in this area offers a significant opportunity for revitalization. This study positions the fishing port as a socio-economic node currently constrained by coastal environmental degradation, inefficient maritime infrastructure, and the dispersion of fishery activities within residential areas. Using a case-study approach and site analysis, the research combines principles of maritime architecture and urban renewal to formulate a design scheme that is operationally effective and restorative to the ecosystem. The scope includes organizing work flows and resident movement, improving the efficiency of unloading facilities, and upgrading the waterfront so it is safe, hygienic, and accessible. Based on these findings, the study proposes a port design that is not only functionally sound for maritime operations but also capable of restoring and improving coastal ecosystem quality through stronger governance, materials suited to the marine environment, and inclusive public spaces. The proposed development is expected to raise fishermen’s incomes through better facilities and more efficient access, while also improving environmental conditions and local wellbeing through zoning, pollution control, and upgrades to basic service networks. The ultimate goal is to realize a sustainable and resilient port that acts as a catalyst for progress for the fishing community and the wider population of Cilincing, in line with the principles of the Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: Fisherman; Maritime; Regenerative Abstrak Dermaga Nelayan Cilincing, sebagai pusat aktivitas perikanan dan kehidupan masyarakat pesisir, dihadapkan pada kompleksitas permasalahan lingkungan dan sosial yang menghambat peningkatan kualitas hidup. Potensi pembangunan sebuah pelabuhan baru di kawasan ini menawarkan peluang signifikan untuk revitalisasi. Penelitian ini menempatkan pelabuhan nelayan sebagai simpul ekonomi-sosial yang saat ini terhambat oleh degradasi lingkungan pesisir, inefisiensi infrastruktur maritim, dan penyebaran aktivitas perikanan di pemukiman. Melalui pendekatan studi kasus dan analisa tapak, penelitian menggabungkan konsep arsitektur maritim dan urban renewal untuk merumuskan skema desain yang tidak hanya fungsional secara operasional tetapi juga bersifat restoratif terhadap ekosistem. Pemaknaan tersebut mencakup penataan alur kerja dan pergerakan warga, peningkatan efisiensi fasilitas bongkar muat, serta perbaikan kualitas ruang tepi air agar aman, higienis, dan mudah diakses. Berdasarkan temuan ini, dirumuskan konsep desain pelabuhan yang tidak hanya fungsional secara maritim, tetapi juga mampu memulihkan dan meningkatkan kualitas ekosistem pesisir melalui penguatan tata kelola, pemilihan material yang sesuai lingkungan laut, serta penyediaan ruang publik yang inklusif. Pembangunan pelabuhan ini berpotensi besar untuk meningkatkan taraf ekonomi para nelayan melalui fasilitas yang lebih baik dan akses yang lebih efisien, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan warga lokal melalui penyusunan zonasi, pengendalian polusi, dan perbaikan jaringan layanan dasar. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menciptakan sebuah pelabuhan yang berkelanjutan, tangguh, dan menjadi katalisator kemajuan bagi komunitas nelayan dan seluruh masyarakat di Dermaga Nelayan Cilincing, sejalan dengan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs).
PENATAAN KAWASAN PENGOLAHAN IKAN BERBASIS KOMUNITAS DI KAMPUNG PESISIR MUARA ANGKE Amnah Amnah; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37073

Abstract

Muara Angke, particularly the Tembok Bolong settlement, is known as a traditional open-air fish-drying area that forms an integral part of residents’ daily activities. However, this practice generates several issues, including strong odors, accumulated fish waste, and limited access to proper communal spaces. In response to these challenges, this study aims to formulate a spatial design concept that improves environmental quality while supporting home-based fish-processing activities in a more organized manner. The research employs direct observation of residents’ daily routines, mapping of kampung activities, and an understanding of local practices as the foundation for spatial planning. Field findings are then combined with literature on participatory architecture and coastal environmental management to construct a relevant design framework. The results present a design concept that integrates fish-production areas, drying spaces, waste-processing facilities, cooperatives, and community spaces into a cohesive system aligned with kampung life. This approach creates a cleaner, more productive, and socially engaging environment. The main finding highlights that integrating fish-waste processing into spatial design can support the sustainable development of fishing communities without diminishing their local identity. Keywords: Coastal Settlement Regeneration; Coastal Village; Muara Angke; Participatory Architecture; Tembok Bolong Village Abstrak Kawasan Muara Angke, khususnya Kampung Tembok Bolong, merupakan pusat aktivitas penjemuran ikan asin secara tradisional di ruang terbuka. Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas warga, namun menimbulkan persoalan seperti bau menyengat, penumpukan limbah ikan, serta keterbatasan ruang komunal yang layak. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan konsep penataan kawasan yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung aktivitas pengolahan ikan sebagai usaha rumahan yang lebih tertata. Pendekatan penelitian dilakukan melalui observasi langsung kehidupan sehari-hari warga, pemetaan aktivitas kampung, dan identifikasi kebiasaan lokal sebagai dasar perancangan. Temuan lapangan kemudian dianalisis bersama literatur terkait arsitektur partisipatif dan pengelolaan lingkungan pesisir untuk membangun kerangka desain yang relevan. Hasil penelitian menghasilkan konsep rancangan yang mengintegrasikan ruang produksi ikan, area pengeringan, sistem pengolahan limbah, koperasi, dan ruang komunal dalam satu kesatuan yang selaras dengan pola hidup kampung. Konsep ini menciptakan lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan ramah bagi interaksi sosial. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi pengolahan limbah ke dalam desain ruang dapat mendorong kampung nelayan berkembang secara berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas lokalnya.