Skrining risiko kegawatan anestesi pada fase pra-anestesi merupakan langkah penting untuk menjamin keselamatan pasien dan mencegah komplikasi perioperatif. Mahasiswa keperawatan anestesiologi sebagai calon tenaga kesehatan dituntut memiliki keterampilan klinik yang memadai dalam melakukan skrining tersebut. Self-efficacy sebagai faktor psikologis diduga berperan dalam mendukung keterampilan praktik klinik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat self-efficacy dengan keterampilan mahasiswa dalam melakukan skrining risiko kegawatan anestesi pada fase pra-anestesi. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 60 mahasiswa keperawatan anestesiologi yang sedang menjalani praktik klinik pra-anestesi, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data self-efficacy dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terbukti valid dan reliabel secara internasional dengan nilai Cronbach’s alpha >0,80, sedangkan keterampilan mahasiswa dinilai menggunakan checklist observasi. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat self-efficacy dan keterampilan skrining risiko kegawatan anestesi dalam kategori tinggi. Namun, hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat self-efficacy dan keterampilan mahasiswa (r = -0,143; p = 0,276). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan keterampilan mahasiswa dalam melakukan skrining risiko kegawatan anestesi pada fase pra-anestesi. Pengembangan kompetensi mahasiswa perlu didukung oleh latihan praktik berulang, supervisi klinik yang intensif, serta evaluasi keterampilan secara berkelanjutan.