Transisi dari fase prenatal ke pascanatal menjadikan bayi baru lahir berada dalam periode yang sangat rawan. Risiko infeksi akibat paparan virus dan bakteri sangat besar terjadi, terutama selama prosedur persalinan hingga saat-saat awal kehidupan di lingkungan baru. Fokus utama dari studi ini adalah untuk mengevaluasi bagaimana keterkaitan antara dukungan dari petugas medis, tingkat pemahaman ibu, serta keyakinan diri (self-efficacy) terhadap kompetensi mereka dalam memberikan perawatan pada bayi baru lahir. Studi analitik ini menggunakan rancangan potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 75 ibu nifas sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling, yang mencakup seluruh ibu nifas dengan bayi baru lahir di PMB Drima Yance Parhusif. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur dukungan tenaga kesehatan, pengetahuan, dan self-efficacy ibu, serta lembar observasi untuk menilai kemampuan merawat bayi baru lahir. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antar variabel dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan tenaga kesehatan (p=0,004), pengetahuan ibu (p=0,000), dan efikasi diri (p=0,014) memiliki hubungan signifikan dengan kemampuan perawatan bayi baru lahir. Ketiga faktor ini terbukti menjadi determinan penting dalam meningkatkan kemandirian ibu. Penelitian menyimpulkan bahwa kemandirian ibu dalam merawat bayi baru lahir sangat bergantung pada dukungan tenaga kesehatan sebagai edukator serta tingkat pengetahuan ibu. Namun, faktor self-efficacy menjadi jembatan kritis; rendahnya rasa percaya diri menghambat ibu untuk mempraktikkan perawatan bayi secara nyata meskipun mereka memiliki pemahaman teoretis yang memadai.