Lauditta Indahdewi
Politeknik Pengayoman Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PEMBINAAN KEPRIBADIAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN GANGGUAN KEAMANAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA BANDA ACEH M. Razi; Lauditta Indahdewi
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 9 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i9.2025.3776-3788

Abstract

Sistem peradilan pidana merupakan instrumen penting dalam penegakan hukum, khususnya hukum pidana. Salah satu aspek yang kini menjadi perhatian dalam sistem pemasyarakatan adalah integrasi kearifan lokal dalam pembinaan narapidana. Kearifan lokal merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai budaya masyarakat ke dalam kebijakan hukum, yang mencerminkan pengakuan dan perlindungan terhadap norma-norma lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banda Aceh merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang berada di bawah koordinasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Aceh. Oleh karena itu, fokus penelitian ini diarahkan pada implementasi kearifan lokal yang bernuansa spiritual dan keagamaan di lingkungan Lapas, khususnya praktik keagamaan yang dikenal di kalangan masyarakat Aceh, yakni Dalail Khairat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mengidentifikasi pelaksanaan strategi pembinaan kepribadian berbasis kearifan lokal sebagai upaya preventif terhadap gangguan keamanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banda Aceh serta faktor penghambatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembinaan kepribadian berbasis kearifan lokal yang diterapkan di Lapas Kelas IIA Banda Aceh mampu meningkatkan kualitas nilai-nilai keagamaan dan spiritual narapidana, baik selama menjalani masa pidana maupun setelah selesai menjalani hukuman. Program ini memberikan dampak positif terhadap suasana lingkungan pemasyarakatan, menciptakan kondisi yang lebih aman dan kondusif, serta mengarahkan narapidana untuk terlibat dalam kegiatan yang bersifat produktif dan membangun. Evaluasi rutin terhadap proses pembelajaran dalam program ini dilakukan oleh petugas pemasyarakatan sebagai bentuk pengawasan dan peningkatan kualitas program di masa yang akan datang. Kegiatan Dalail Khairat tidak hanya memberikan manfaat selama narapidana berada di dalam lembaga pemasyarakatan, tetapi juga menjadi bekal spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat pasca pembebasan.Namun demikian, pelaksanaan program pembinaan kepribadian berbasis kearifan lokal ini menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, serta terbatasnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk honorarium tenaga pengajar dan penyediaan fasilitas penunjang kegiatan. Faktor-faktor ini menjadi tantangan yang perlu segera diatasi guna meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program pembinaan ke depan.
Implementasi Pendekatan Client Centered Teraphy dalam Pelaksanaan Pembinaan Kepribadian Kerohanian Kristen di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tanjung Balai Figel Enro Saragih; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.12319

Abstract

Penelitian ini membahas implementasi pendekatan Client-Centered Therapy (CCT) dalam pembinaan kepribadian kerohanian Kristen di Lapas Kelas IIB Tanjung Balai. Pendekatan ini diterapkan untuk memberikan pembinaan yang lebih personal, empatik, dan non-judgmental kepada narapidana Kristen, dengan tujuan membentuk pribadi yang lebih baik dan meningkatkan potensi diri mereka selama menjalani masa pidana. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, melibatkan petugas pembinaan, narapidana Kristen, dan pihak ketiga seperti pendeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi CCT melalui prinsip penerimaan tanpa syarat, keaslian, pemahaman empatik, dan sikap tidak menghakimi membantu narapidana merasa dihargai, terbuka, dan mampu merefleksikan diri secara spiritual. Hambatan dalam penerapan CCT di antaranya keterbatasan sumber daya, waktu, serta kondisi psikososial narapidana yang bervariasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas petugas pembinaan agar pendekatan CCT dapat dijalankan secara konsisten sehingga pembinaan kerohanian dapat berdampak lebih optimal dalam rehabilitasi dan reintegrasi narapidana ke masyarakat.