Mutia Fauziah
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi PSDKU Pangandaran, Universitas Padjadjaran

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

“JANGAN NAKAL, NANTI DIPANGGIL KANG DEDI!”: KAJIAN KOMUNIKASI KELOMPOK ATAS FENOMENA PHOBIA KDM Agus Setiaman; Mutia Fauziah; Azizul Rahman
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.415

Abstract

Sejak menjabat menjadi gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi membuat berbagai kebijakan. Salah satu kebijakan yang paling fenomenal dan menarik banyak perhatian adalah mengirim remaja nakal ke barak militer. Berangkat dari kebijakan tersebut, muncul fenomena phobia KDM akibat penggunaan figur KDM sebagai alat ancaman dalam mendisiplinkan anak anak. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam praktik komunikasi dalam praktik komunikasi keluarga. Dalam upaya menanamkan kedisiplinan, orang tua cenderung menggunakan pendekatan instan dengan mengandalkan rasa takut. Salah satunya teguran keras kepada anak-anak. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, sebagai kelompok kecil, membentuk kebiasaan komunikasi yang disfungsional. Jika hal demikian terus berlanjut, alih alih menjadi tempat yang aman dan mendukung, keluarga justru berpotensi menjadi ruang dimana otoritas orang tua ditegakkan dan menakuti, bukan mendidik. Fenomena ini mengindikasikan lemahnya pemahaman sebagian orang tua terhadap pola komunikasi yang sehat dalam kelompok. Ketidakseimbangan ralasi kuasa antara orang tua dan anak, serta minimnya edukasi mengenai metode disiplin yang konstruktif menjadi akar dari permasalahan ini. Penggunaan teknik komunikasi otoriter dalam keluarha dapat membentuk struktur kelompok yang kaku dan tidak adaptif, dimana anak hanya menjadi peneriman infirmasi tanpa kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau mengekspresikan perasaan. Selain itu, dampak lain yang mungkin dirasakan oleh anak dalam permasalah ini adalah ketakutan sesaat, gangguan tidur, serta berkembangnya citra negatif terhadap figur otoritas seperti guru atau tokoh masyarakat lainnya. Selain itu, berkaitan dengan penyebaran fenomena ini melalui media sosial, yang memperluas cakupan dan pengaruhnya secara cepat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana komunikasi kelompok melalui dunia maya bisa memperkuat makna simbolik tertentu, yang dalam hal ini memperkuat rasa takut kolektif terhadap sosok publik. Proses ini tidak hanya terjadi dalam ruang privat keluarga, tetapi juga diperkuat oleh interaksi dalam kelompok yang lebih luas, seperti komunitas media sosial dan kelompok sebaya anak.