Meluasnya pemakaian pembangkit berbasis konverter daya menyebabkan transformator semakin sering dicatu tegangan nonsinusoidal yang kaya harmonik, sehingga inti dapat terdorong ke daerah saturasi. Penelitian ini mengevaluasi kemampuan dua metode perhitungan matematis transformator satu fasa inti nonlinier dalam merepresentasikan karakteristik dan kinerja transformator pada masukan sinusoidal dan gelombang kotak (square wave). Metode pertama (M1) menyelesaikan persamaan diferensial rangkaian lengkap (loop primer, loop sekunder, dan cabang magnetisasi) secara numerik, sedangkan metode kedua (M2) menggunakan pendekatan aproksimasi ?? ≈ ?? sehingga flux linkage dan tegangan induksi mutual dapat dihitung langsung dari tegangan masukan. Hubungan nonlinier antara flux linkage dan arus magnetisasi direpresentasikan melalui Lookup Table, dan tegangan kotak direpresentasikan dengan deret Fourier hingga harmonik ke-49. Kedua metode perhitungan dibandingkan terhadap simulasi Simulink sebagai acuan pada transformator 10 kVA, 220/110 V, 50 Hz. Hasil evaluasi tahap kedua menunjukkan bahwa pada masukan sinusoidal M1 identik dengan Simulink (error 0,00%) dan M2 tetap valid dengan error maksimum 0,70%. Pada masukan kotak, M1 valid pada seluruh parameter, sedangkan M2 valid untuk besaran terminal namun kurang valid pada arus tanpa beban (error RMS 17,00%). Pada evaluasi tahap kedua, penyimpangan nilai puncak pada masukan kotak terbukti merupakan fenomena Gibbs (overshoot 8,95%), bukan kesalahan model. Distorsi arus magnetisasi akibat saturasi mencapai THD 60,91% pada evaluasi tahap pertama, dan efisiensi maksimum 98,59% tercapai pada beban 80% pada evaluasi tahap ketiga.Kata Kunci—Square wave, deret Fourier, fenomena Gibbs, inti nonlinier, saturasi, transformator.