Pendidikan memiliki peran Strategis dalam pelestarian budaya lokal dan pembentukan identitas peserta didik, terutama di tengah arus globalisasi dan homogenisasi pengetahuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis program Batak Day sebagai bentuk pelestarian budaya lokal dan upaya dekolonisasi pendidikan di sekolah-sekolah Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, pada periode 2018–2024. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan pemilihan tema, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penulis melaksanakan pengabdian masyarakat selama satu bulan di SMP Negeri 3 Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, untuk memperoleh data melalui observasi terhadap pelaksanaan Batak Day, yang kemudian diperkaya dengan penelusuran buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Data dianalisis melalui kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah dengan mengintegrasikan temuan observasi lapangan dan studi pustaka dalam konteks sejarah pendidikan, desentralisasi kebijakan, serta dekolonisasi pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batak Day berfungsi sebagai ruang pendidikan yang menghidupkan kembali penggunaan bahasa, simbol, dan praktik budaya Batak di lingkungan sekolah. Program ini tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal, tetapi juga memperkuat identitas kultural peserta didik serta menjadi bentuk implementasi pendidikan yang menghargai kearifan lokal di tengah dominasi paradigma pendidikan yang seragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi budaya lokal ke dalam pendidikan formal merupakan strategi yang efektif untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mewujudkan pendidikan yang berkeadilan budaya dan berdaulat secara pengetahuan.