Kekerasan verbal merupakan problem etika komunikasi yang semakin menonjol dalam kehidupan sosial kontemporer, namun kerap dipahami secara reduktif sebagai penyimpangan linguistik semata. Dalam konteks pemikiran Islam, persoalan ini menuntut pembacaan yang lebih mendalam terhadap pandangan dunia Al-Qur’an tentang bahasa sebagai tindakan moral, khususnya melalui istilah-istilah kunci yang digunakan untuk menggambarkan praktik perendahan martabat manusia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep kekerasan verbal dalam Al-Qur’an melalui kajian semantik terhadap istilah al-lamz dan al-hamz, serta menyingkap perbedaan konseptual dan implikasi etis keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan mengintegrasikan tafsir tematik dan semantik Qur’ani Toshihiko Izutsu, yang mencakup analisis makna dasar, relasi konseptual, medan makna, dan pandangan dunia etika Qur’ani. Hasil kajian menunjukkan bahwa al-lamz dan al-hamz tidak bersifat sinonim, melainkan merepresentasikan dua modus kekerasan verbal yang berbeda, yakni kekerasan verbal langsung dan terbuka serta kekerasan verbal terselubung dan simbolik. Temuan ini menegaskan bahwa Al-Qur’an membangun pandangan dunia etika komunikasi yang menempatkan penjagaan karamah insaniyyah sebagai poros utama relasi bahasa dan moralitas. Artikel ini menyimpulkan bahwa etika komunikasi Qur’ani tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga menawarkan kerangka pemikiran etis yang relevan bagi pengembangan wacana pemikiran Islam lintas konteks zaman.