Ratieh Widhiastuti
State University of Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kemampuan Berpikir Kritis: Bagaimana Ketergantungan AI dan Cognitive Offloading menjadi Faktor yang Mempengaruhi dengan Diperkuat oleh Adversity Quotient Umi Maghfiroh; Ratieh Widhiastuti
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 8 No. 3 (2025): September - Desember 2025
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.8.3.2025.6738

Abstract

Urgensi dari penelitian ini adalah memahami dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan cognitive offloading terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa di era digital dan revolusi industri 4.0, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia. Pentingnya urgensi ini diperkuat oleh kebutuhan untuk mengungkap peran Adversity Quotient (AQ) sebagai variabel pemoderasi dalam interaksi kompleks antara teknologi, kognisi, dan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ketergantungan AI dan cognitive offloading terhadap kemampuan berpikir kritis, dengan AQ sebagai variabel moderasi. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melibatkan 121 mahasiswa Pendidikan Ekonomi FEB UNNES angkatan 2023–2024 sebagai sampel yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan metode SEM-PLS menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis (β = 0,348; t = 3,562; p = 0,000). Cognitive offloading tidak menunjukkan pengaruh signifikan (β = 0,022; t = 0,193; p = 0,847). AQ juga tidak berperan sebagai moderator pada hubungan AI maupun cognitive offloading dengan kemampuan berpikir kritis (β = -0,039; t = 0,259; p = 0,796) dan (β = -0,064; t = 0,437; p = 0,662). Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tidak melemahkan, melainkan justru meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Kurikulum perlu disesuaikan agar dosen dapat merancang tugas yang menuntut pemikiran strategis dengan dukungan AI. Meskipun AQ tidak memoderasi pengaruh AI, penguatan karakter seperti kemandirian, resiliensi, dan ketahanan mental tetap diperlukan dalam proses pendidikan.
Penguatan Pemasaran Digital Produk Terasi melalui Kolaborasi Karang Taruna dan Kelompok Perempuan Pesisir di Dusun Pilangsari, Kabupaten Kendal Satsya Yoga Baswara; Ratieh Widhiastuti; Sandy Arief; Moh. Eko Saputro; Fahmi Aska Asharudin; Fransiska Fransiska; Indriyani Indriyani; Pipit Ayu Lestari
AJAD : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): DECEMBER 2026
Publisher : Divisi Riset, Lembaga Mitra Solusi Teknologi Informasi (L-MSTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59431/ajad.v6i3.924

Abstract

The Coastal Women's Group in Pilangsari Hamlet, Kendal Regency, processes shrimp catch into shrimp paste (terasi), but market reach remains constrained by minimal digital marketing and the lack of structured collaboration with Karang Taruna (youth organization) as a marketing partner. This community service activity aimed to enhance Karang Taruna's digital marketing skills and establish collaborative business management between both groups. Using an Asset-Based Community Development approach with participatory principles, the program comprised four stages: needs analysis, two training sessions, implementation mentoring, and evaluation, with data collected via observation, interviews, and documentation. Results revealed qualitative improvements in participants' capabilities, marked by an active social media account and online store managed by Karang Taruna, along with a village decree formalizing the partnership, although a written profit-sharing agreement is still being finalized. These findings highlight that technical-administrative adaptations advance faster than socio-economic agreements, offering an adaptable cross-group collaborative model for coastal community empowerment.