Penafsiran tunggal terhadap rerata skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika yang berada pada kategori "rendah" sering kali secara prematur disimpulkan sebagai krisis kompetensi siswa, tanpa mengevaluasi kualitas psikometrik instrumen yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kritik metodologis dan menafsirkan ulang label skor "rendah" melalui analisis psikometrik modern dan dekonstruksi keselarasan konstruk kompetensi abad ke-21 (4C). Penelitian kuantitatif deskriptif berdesain evaluatif-kritikal ini menganalisis respons sekunder 1.250 siswa SMP/MTs di Kabupaten Malang terhadap 40 butir soal TKA Matematika berbasis Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Analisis data menggunakan Item Response Theory (IRT) model Rasch (1-PL) dan Two-Parameter Logistic (2-PL) untuk menguji item fit, tingkat kesukaran (b), daya beda (a), serta Differential Item Functioning (DIF), yang dilanjutkan dengan pemetaan konten-kritis terhadap indikator 4C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30,0% butir soal dikategorikan misfit, 37,5% memiliki kesukaran sangat tinggi (b > 2,0), 22,5% berdaya beda buruk (a < 0,5), dan 27,5% terbukti memuat bias lokasi (DIF) yang merugikan siswa dari daerah rural. Selain itu, hanya 42,5% butir soal yang memiliki keselarasan konstruk secara valid dengan indikator 4C, di mana mayoritas soal yang dilabeli HOTS sejatinya hanya menguji kompleksitas kalkulasi (procedural complexity), bukan kedalaman penalaran kritis (Critical Thinking) atau fleksibilitas strategi (Creativity). Temuan ini membuktikan bahwa label skor "rendah" pada TKA Matematika bukan murni mencerminkan ketidakmampuan akademis siswa (true low competence), melainkan akibat dari artefak pengukuran (assessment artifacts) dan kecacatan desain instrumen. Penelitian ini merekomendasikan penghentian praktik menyalahkan kapasitas siswa (blaming the learner) dan mendesak digelarnya kalibrasi psikometrik serta standardisasi instrumen tes sebelum instrumen dijadikan dasar formulasi kebijakan pendidikan.