Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Preservation of The Tortor Mangalo alo Tondong Tradition in Simalungun Batak Weddings in Siopat Suhu Village, Pematang Siantar City Valda Lia Purba; Supsiloani Supsiloani
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol 11 No 1
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v11i1.2479

Abstract

This study aims to analyze the importance of the Mangalo-alo Tondong Tortor Tradition carried out in the Simalungun Batak Wedding in Siopat Suhu Village, Pematangsiantar City, Explaining the efforts made by the Simalungun community to preserve traditions and knowing how the Simalungun Young Generation views the importance of the Tradition in Simalungun Weddings in Siopat Suhu Village, Pematangsiantar City. The method used in this study is a qualitative method with a descriptive approach. This research was conducted in Siopat Suhu Village, Pematangsiantar City. The data collection techniques are by data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study indicate that the Mangalo-alo Tondong Tradition is still carried out and is still preserved by the Simalungun community, both traditional leaders, Simalungun parents, and also the Simalungun Young Generation. Because the role of Tondong is very important in marriage, this tradition is carried out as a form of respect. If in marriage gets a blessing from the Bone, it will be happy together forever according to the Batak people's view. And also to strengthen the relationship between two large families that they all need each other. In the context of Bronislaw Malinowski's functionalist theory, traditions and rituals must serve a function in social life to maintain and pass down to younger generations. Through these traditions, we can see that something with a role and function will be respected and maintained so that it continues to exist.
Transformasi Peran Orang Tua dalam Penentuan Bõwõ di Desa Hilizihõnõ, Nias Clara Septa Fransiska Daliwu; Sulian Ekomila; Supsiloani Supsiloani; Kris Suspon Rama
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 4 (2026): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v4i4.1586

Abstract

Penelitianl ini bertujuan untuk memaparkan kajian mengenai perubahan peran orang tua dalam penentuan bõwõ (mahar) pada etnis Nias di desa Hilizihõnõ. Artikel yang berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Pengumpulan data pada penelitian dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perubahan peran orang tua dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal keluarga, khususnya pergeseran pola komunikasi menuju komunikasi yang lebih dialogis, serta faktor eksternal yang meliputi kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, modernisasi, dan transformasi nilai sosial-keagamaan. Perubahan ini ditandai dengan pergeseran relasi dari pola hierarkis menuju pola yang lebih egaliter dan partisipatif. Selain itu, pertimbangan dalam penentuan bõwõ mengalami pergeseran dari orientasi simbolik ke orientasi yang lebih fungsional, seperti kesejahteraan bersama dan kesepakatan antarpasangan. Secara keseluruhan, perubahan tersebut mencerminkan proses adaptasi dan rekonstruksi budaya yang memungkinkan tradisi tetap relevan dan berkelanjutan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang