Gusti Ayu Made Suartika
Universitas Udayana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA DARI RAGAM HIAS PURA PURNA, DESA MENGWI, BADUNG, BALI Agus Andika; I Gusti Ngurah Agung Widagda Putra Gautama; Gusti Ayu Made Suartika
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3992

Abstract

Abstract: This article explores the meaning embedded in various ornamental designs of Balinese buildings, with Pura Purna in Mengwi Village, Badung Regency, as the case study. It highlights the diversity and richness of the ornaments, emphasizing their central role in characterizing religious structures. Using a qualitative approach, the study employs in-depth interviews, manuscript reviews, physical observations, and architectural documentation to analyze the form and design of these ornaments, contributing to understanding Balinese architectural identity. Data collection involved in-depth interviews, reviews of relevant manuscripts, physical observations, and architectural documentation, applying semiotic theory to interpret meanings. The study found that Pura Purna's architectural forms and ornamental designs were influenced by Dutch colonialism, encapsulated in the “Ni Dyah Tantri” animal tales, which embody deeply ingrained moral values within Balinese society. Moreover, the study observed that the ornaments used are not merely decorative elements but also reflections of the cultural and historical phases experienced by the community in Mengwi Village. Consequently, Pura Purna serves not only as a place of worship but also as a culturally rich and historically significant heritage that must be preserved. Keyword: Ornamental Designs, Cultural Influence, Balinese Heritage Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna yang tertanam dalam berbagai ragam hias dari bangunan di Bali. Artikel ini memilih Pura Purna sebuah tempat ibadah di Desa Mengwi, Kabupaten Badung sebagai objek studinya. Fokus diskusi yang diangkat adalah pada bentuk dan desain ornamen yang digunakan di pura ini. Artikel ini melihat keragaman dan kekayaan ornamen sebagai bagian sentral yang mengkarakterisasi sebuah struktur ibadah dan bahkan sebuah pura secara keseluruhan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan serangkaian wawancara mendalam, tinjauan terhadap naskah-naskah yang relevan, observasi fisik, dokumentasi arsitektur, serta menggunakan teori Semiotika dalam mengungkap makna yang. Studi ini menemukan bahwa bentuk arsitektur dan desain ornamen Pura Puada di setiap ragam hias. rna dipengaruhi oleh kependudukan penjajah Belanda, yang dikemas dalam kisah kehidupan hewan Ni Dyah Tantri yang nilai-nilai moralnya sangat tertanam dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, diamati bahwa ornamen yang digunakan bukan hanya elemen dekoratif, tetapi juga cerminan dari fase-fase budaya dan sejarah yang dialami oleh komunitas di Desa Mengwi. Oleh karena itu, Pura Purna bukan hanya tempat ibadah tetapi juga warisan yang kaya secara budaya dan penting secara historis yang patut dilestarikan. Kata Kunci: Desain Ornamen, Pengaruh Budaya, Warisan Bali
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS MASYARAKAT DI JALUR PEDESTRIAN JALAN GAJAH MADA DENPASAR DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING Ngurah Arya; Gusti Ayu Made Suartika
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4242

Abstract

Abstract: The increasing use of private vehicles in recent years has become a pressing issue, contributing to various negative impact, including rising air pollution and a decline in the number of people walking. Active living refers to the effort to maintain a healthy lifestyle through regular physical activity, such as walking or cycling. Based on the triple-bottom-line theory, the aim of this study one the components that influence people’s behavior to move actively along the Jalan Gajah Mada Denpasar pedestrian path. The study area is located within a commercial zone that experiences significant traffic congestion during peak hours. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative and qualitative techniques, including field surveys, interviews, and questionnaires for data collection. The results indicate that the majority of interviewees agreed that walking along the pedestrian path contributes to better health, enhances social well-being, and supports the local economy. However, challenges remain, such as inadequate infrastructure, the presence of parked vehicles on pedestrian paths, and safety concerns. Economic factors emerged as the primary motivator for people to engage in active mobility, while environmental conditions also played a crucial role. This tstudy emphasizes the importance of designing safe and comfortable pedestrian pathways to encourage active movement and ultimately improve quality of life. Further research is recommended to explore policy development and pedestrian design improvements through collaborative efforts with community stakeholders. Keywords: Active life, walking, pedestrian Abstrak: Meningkatnya pengguna kendaraan pribadi belakangan ini menjadi isu yang belakangan ini sering dibahas dan menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya adalah polusi udara meningkat dan terjadi penurunan jumlah masyarakat yang berjalan kaki. Active living merupakan berusaha untuk tetap menjalani gaya hidup sehat secara rutin setiap hari, misalkan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Berdasarkan teori triple-bottom-line, tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari salah satu komponen yang mempengaruhi perilaku masyarakat untuk bergerak aktif di sepanjang jalur pedestrian Jalan Gajah Mada Denpasar. Lokasi ini berada disebuah kawasan komersial dengan tingkat kemacetan tinggi di jam tertentu. Metode yang digunakan adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui survey lapangan, wawancara dan pengumpulan data serta kuisioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas hasil dari wawancara menjawab setuju bahwa berjalan kaki di jalur pedestrian dapat meningkatkan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan sosial serta mendukung ekonomi lokal. Namun, terdapat beberapa tantangan kurangnya fasilitas seperti masih terdapat parkir di jalur pedestrian, dan masalah keamanan yang perlu diperbaiki. Faktor ekonomi menjadi faktor utama bagi masyarakat untuk bergerak aktif, sementara kondisi lingkungan juga berperan penting. Penelitian ini membahas pentingnya merencanakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman untuk mendorong masyarakat dalam bergerak lebih aktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Rekomendasi untuk studi lebih lanjut mencakup pengembangan regulasi dan desain pedestrian serta kolaborasi dengan komunitas. Kata Kunci: Active living, berjalan kaki, pedestrian