Provinsi Kalimantan Tengah secara historis memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor primer, khususnya pertanian kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Ketergantungan ini menimbulkan kerentanan ekonomi regional terhadap fluktuasi harga komoditas global (commodity shock). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor-sektor basis yang menjadi keunggulan komparatif, menganalisis komponen pertumbuhan wilayah secara kompetitif, serta memetakan posisi sektoral dalam tipologi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah. Data yang digunakan adalah data sekunder Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kalimantan Tengah dan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) periode tahun 2021–2025 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Alat analisis yang diaplikasikan meliputi Location Quotient (LQ), Shift-Share Analysis (SSA), dan Tipologi Klassen. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (LQ = 1,82) serta Sektor Pertambangan dan Penggalian (LQ = 1,45) tetap menjadi sektor basis utama. Namun, analisis Shift-Share mendeteksi gejala deindustrialisasi dini di mana Sektor Industri Pengolahan lokal kehilangan daya saing kompetitifnya (Dij < 0). Sebaliknya, Sektor Konstruksi serta Sektor Informasi dan Komunikasi mencatatkan pertumbuhan net lokal yang progresif. Melalui pemetaan Tipologi Klassen, Sektor Pertanian berada pada posisi jenuh (Maju tapi Tertekan). Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan menekankan perlunya transformasi struktural melalui strategi hilirisasi terintegrasi dan penguatan interkoneksi ekonomi regional sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).