Studi ini bertujuan untuk menggambarkan praktek “mandara” sebagai cara untukmembangun ketahanan dan mengurangi kerentanan ketika mengalami guncangan(shocks) dalam penghidupan masyarakat Sumba. Perubahan iklim mengakibatkangagal panen yang menimbulkan guncangan bagi rumah tangga – rumah tangga dikampung Pakapihak. Modal sosial yang mengikat (bounding) digunakan untukbertahan dan keluar dari kerentanan. Penelitian Kualitatif dengan mengaplikasikanpendekatan etnografi digunakan untuk mendapatkan data komprehensif. Penelitianmenyimpulkan bahwa mandara merupakan pertukaran atau barter yang menjaditradisi masyarakat Sumba, yang dilakukan karena adanya jaringankekeluargaan/kekerabatan, yang mengikat (bounding) yang dilandasi oleh rasasaling percaya sehingga terjadi saling membantu dalam rangka pemenuhankebutuhan pangan. Praktek mandara ini dapat terus terjadi karena dukungannorma yang ada dalam tradisi budaya Sumba untuk saling menopang.Akhirnya mandara merupakan jalan keluar untuk meningkatkan ketahananpangan dan mengatasi kerentanan pangan akibat perubahan yang terjadi padarumah tangga-rumah tangga di kampung Pakapihak, meskipun bersifatsementara. Penelitian ini merekomendasikan bahwa pengelolaan tradisimandara yang baik, akan memberikan keberlanjutan penghidupan meskipunterjadi guncangan akibat perubahan iklim dan penyebab lainnya. Secara jangkapanjang dapat dikembangkan sebagai cara mendistribusikan hasil pertaniandan peternakan di masyarakat perdesaan secara modern (mandara modern).Kata kunci:, mandara, ketahanan, guncangan, kerentanan, penghidupan