Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pendekatan Arsitektur Inklusif pada Perancangan Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Takalar Muhammad Abduh; Andi Yusri; Irnawaty Idrus; Citra Amalia Amal; Andi Syahriyunita Syahruddin; Muhammad Syarif
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/hq1v5p61

Abstract

ABSTRAKMall Pelayanan Publik (MPP) merupakan inovasi pelayanan terpadu yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan pemerintah kepada masyarakat. Namun, banyak fasilitas MPP yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek aksesibilitas bagi seluruh kelompok pengguna, khususnya penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Penelitian ini bertujuan merancang Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Takalar dengan pendekatan arsitektur inklusif guna mewujudkan fasilitas pelayanan publik yang adil, setara, dan mudah diakses oleh semua kalangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode perancangan arsitektur, melalui studi literatur, observasi tapak, analisis kebutuhan ruang, serta studi banding terhadap proyek sejenis di dalam dan luar negeri. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan prinsip universal design mampu meningkatkan kualitas aksesibilitas melalui penyediaan ramp standar, lift, sirkulasi ramah disabilitas, sistem wayfinding berbasis visual dan warna, serta fasilitas pendukung seperti toilet disabilitas, ruang laktasi, dan ruang bermain anak. Selain itu, pemilihan material yang aman dan tidak licin turut meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi prinsip arsitektur inklusif sejak tahap perencanaan sangat penting dalam menciptakan ruang pelayanan publik yang manusiawi, responsif, dan berkelanjutan.Kata Kunci: Arsitektur Inklusif, Pelayanan Publik, Disabilitas, Aksesibilitas, Universal Design.ABSTRACTPublic Service Malls (Mall Pelayanan Publik/MPP) are integrated service facilities aimed at improving the efficiency and quality of public services. However, many existing MPP buildings have not fully considered accessibility for all user groups, particularly people with disabilities, the elderly, pregnant women, and other vulnerable communities. This study aims to design a Public Service Mall in Takalar Regency using an inclusive architectural approach to ensure equal, safe, and convenient access to public services. The research adopts a qualitative descriptive method based on architectural design processes, including literature review, site observation, spatial needs analysis, and comparative studies of similar projects at national and international levels. The design results demonstrate that the application of universal design principles significantly improves accessibility through standard-compliant ramps, elevators, disability-friendly circulation, visual and color-based wayfinding systems, and inclusive supporting facilities such as accessible toilets, lactation rooms, and child-friendly spaces. In addition, the use of safe and non-slip materials enhances user comfort and safety. This study emphasizes that integrating inclusive design principles from the early planning stage is essential for creating public service facilities that are humane, responsive, and sustainable, while also supporting equitable access to government services.Keyworsds: Inclusive Architecture, Publik Service, Disability, Accesibility, Universal Design.
Perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba Dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi di Kab. Bulukumba M. Fitrah Achriyanto Syam; Andi Yusri; Nurhikmah Paddiyatu; Citra Amalia Amal; Irnawaty Idrus; Rohana Abdullah
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/qrxhqe52

Abstract

ABSTRAK: Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan desain untuk Pusat Rehabilitasi Narkoba dengan pendekatan Arsitektur Ekologis di Kabupaten Bulukumba yang bertujuan memberikan pemulihan secara mental dan spiritual bagi pengguna Narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah fasilitas rehabilitasi narkoba di Kabupaten Bulukumba dengan menerapkan prinsip-prinsip Arsitektur Ekologi dan menciptakan tata ruang serta fasilitas pendukung yang sesuai dengan konsep tersebut. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan meliputi observasi di lapangan dan tahap perancangan arsitektur. Desain yang ditampilkan dalam penelitian ini adalah pusat rehabilitasi narkoba yang diembangkan berlandaskan prinsip-prinsip Arsitektur Ekologi. Desain ini mencakup empat karakteristik utama dari arsitektur yang ramah lingkungan, yaitu: penggunaan panel surya sebagai sumber energi terbarukan, penerapan jendela besar untuk penerangan dan ventilasi alami, penggunaan material lokal dalam konstruksi, serta pengelolaan air hujan dan limbah yang didaur ulang untuk pemakaian toilet dan irigasi tanaman.KATA KUNCIArsitektur Ekologi, Pusat Rehabilitasi, Narkoba. ABSTRACT: Abuse of Narcotics, Psychotropics, and Addictive Substances (NAPZA) is a very worrying problem in Indonesia. Therefore, it is necessary to develop a design for a Drug Rehabilitation Center with an Ecological Architecture approach in Bulukumba Regency which aims to provide mental and spiritual recovery for drug users. This study aims to design a drug rehabilitation facility in Bulukumba Regency by applying the principles of Ecological Architecture and creating a spatial layout and supporting facilities in accordance with the concept. In this study, the methods used include field observations and the architectural design stage. The design presented in this study is a drug rehabilitation center developed based on the principles of Ecological Architecture. This design includes four main characteristics of environmentally friendly architecture, namely: the use of solar panels as a renewable energy source, the application of large windows for natural lighting and ventilation, the use of local materials in construction, and the management of rainwater and recycled waste for toilet use and plant irrigation.Keywords:Ecological Architecture, Rehabilitation Center, Drugs.  
Desain Rumah Sakit Kanker Berbasis Healing Environment sebagai Pendekatan Arsitektur Humanis di Kota Makassar Taufik Mansyur; Sahabuddin Latif; A. Syahriyunita Syahruddin; Citra Amalia Amal; Siti Fuadillah Alhumairah Amin; Nurhikmah Paddiyatu
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/kt42nm82

Abstract

ABSTRAK: Rumah sakit khusus kanker karsinoma di Kota Makassar merupakan bangunan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker di Kota Makassar. Tingginya angka kejadian kanker karsinoma di Kota Makassar dan terbatasnya fasilitas khusus yang menangani kasus penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah terciptanya rumah sakit khusus kanker karsinoma yang menerapkan pendekatan Healing Environment untuk meningkatkan kualitas hidup terhadap pasien, menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, serta mendukung proses penyembuhan. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur dan analisis kebutuhan pasien, mencari data pasien yang terkait dengan kanker karsinoma sebelumnya dengan rentang waktu lima tahun dan menghitung jumlah pengguna rumah sakit ke depannya. Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya sebuah desain rumah sakit yang memadukan elemen-elemen Healing Environment, seperti taman interior dan eksterior, pencahayaan alami, serta teknologi yang mendukung proses penyembuhan dan pengobatan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai, dan menjadi contoh bagi rumah sakit lain dalam menerapkan pendekatan Healing Environment. Kata Kunci: Rumah Sakit Kanker, Healing Environment, Kanker Karsinoma, Kota Makassar. ABSTRACT: The cancer carcinoma specialized hospital in Makassar City is a building designed to improve the quality of life for cancer patients in Makassar City. The high incidence rate of carcinoma cancer in Makassar City and the limited specialized facilities addressing this disease are the main concerns. The aim of this research is to create a specialized carcinoma cancer hospital that applies the Healing Environment approach to enhance the quality of life for patients, creating a calm, comfortable environment that supports the healing process. The research methods used include literature study and patient needs analysis, gathering data on patients related to carcinoma cancer from the previous five years, and estimating the future number of hospital users. The result of this study is the creation of a hospital design that integrates elements of Healing Environment, such as interior and exterior gardens, natural lighting, and technology that supports the healing and treatment process. This research is expected to improve the quality of life for patients, provide adequate treatment facilities, and serve as a model for other hospitals in implementing the Healing Environment approach. Keyworsds: Cancer Hospital, Healing Environment, Cancer Carcinoma, Makassar City.  
Penerapan Prinsip Arsitektur Ekologi pada Perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba di Kabupaten Bulukumba M. Fitrah Achriyanto Syam; Andi Yusri; Nurhikmah Paddiyatu; Citra Amalia Amal; Irnawaty Idrus; Rohana
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/3m616f73

Abstract

ABSTRAKPendekatan arsitektur ekologis dipilih karena mampu menciptakan lingkungan binaan yang sehat, berkelanjutan, dan mendukung proses penyembuhan pengguna (NAPZA). Lingkungan fisik yang nyaman dan alami diyakini dapat memberikan pengaruh positif terhadap kondisi psikologis dan emosional pasien rehabilitasi. Penataan massa bangunan dirancang menyatu dengan kontur dan kondisi alam sekitar untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Ruang terbuka hijau dimanfaatkan sebagai area terapi luar ruang yang mendukung aktivitas refleksi dan pemulihan mental. Konsep sirkulasi udara alami diterapkan untuk menciptakan kualitas udara dalam ruang yang lebih baik dan menyehatkan. Selain itu, desain bangunan memperhatikan orientasi matahari untuk mengurangi konsumsi energi buatan. Fasilitas pendukung seperti ruang konseling, ruang ibadah, dan area kegiatan dirancang dengan suasana yang tenang dan privat.. Dengan pendekatan ini, pusat rehabilitasi diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemulihan fisik, tetapi juga sebagai sarana pembinaan mental dan spiritual. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan fasilitas rehabilitasi berbasis arsitektur berkelanjutan di Indonesia.Kata Kunci: Arsitektur Ekologi, Pusat Rehabilitasi, Narkoba, Lingkungan Sosial, Kabupaten Bulukumba. ABSTRACTThe Ecological Architecture approach was chosen because it can create a healthy, sustainable built environment that supports the healing process of drug users (NAPZA). A comfortable and natural physical environment is believed to have a positive influence on the psychological and emotional state of rehabilitation patients. The building's massing is designed to blend with the contours and natural conditions of the surrounding area to minimize environmental damage. Green open spaces are utilized as outdoor therapy areas that support reflection and mental recovery activities. The concept of natural air circulation is implemented to create better and healthier indoor air quality. Furthermore, the building design takes into account solar orientation to reduce artificial energy consumption. Supporting facilities such as counseling rooms, prayer rooms, and activity areas are designed to create a calm and private atmosphere. The use of water and vegetation elements also function as therapeutic elements that enhance visual and psychological comfort. With this approach, the rehabilitation center is expected to function not only as a place for physical recovery, but also as a means of mental and spiritual development. The results of this design are expected to see.Keywords: Ecological Architecture, Rehabilitation Center, Drugs, Social Environment, Bulukumba Regency.
Sekolah Luar Biasa Berbasis Universal Design sebagai Model Pendidikan Inklusif di Perkotaan Indonesia Sri Nindy Welisfa; Sahabuddin Latif; Nurhikmah Paddiyatu; Andi Syahriyunita Syahruddin; Citra Amalia Amal; Siti Fuadillah Alhumairah Amin
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/hwwd3269

Abstract

ABSTRAKPendidikan inklusif tidak hanya membutuhkan kebijakan dan pendekatan pedagogis yang mendukung, tetapi juga lingkungan fisik yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas. Kota Makassar memiliki jumlah penyandang disabilitas yang relatif tinggi, namun ketersediaan Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan fasilitas yang inklusif dan memadai masih terbatas. Penelitian ini bertujuan merumuskan perancangan Sekolah Luar Biasa di Kota Makassar dengan pendekatan Universal Design untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, mudah diakses, dan mendukung kemandirian seluruh pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan perancangan berbasis riset dengan mengintegrasikan analisis tapak, pengumpulan data berbasis pengguna, kajian literatur, dan studi preseden. Analisis difokuskan pada kebutuhan ruang, zonasi, sirkulasi, bentuk bangunan, serta sistem aksesibilitas guna mendukung prinsip inklusivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip Universal Design—meliputi akses bebas hambatan, fleksibilitas ruang, sirkulasi yang intuitif, dan fasilitas pelengkap yang inklusif—mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, kemandirian, dan partisipasi sosial siswa berkebutuhan khusus. Studi ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis bagi pengembangan arsitektur pendidikan inklusif serta dapat menjadi acuan perancangan SLB di konteks perkotaan Indonesia. Kata Kunci: Universal Design; Sekolah Luar Biasa; Arsitektur Inklusif; Fasilitas Pendidikan; Disabilitas ABSTRACTInclusive education requires not only supportive policies and pedagogical approaches but also a built environment that accommodates the diverse needs of students with disabilities. Makassar City has a relatively high number of people with disabilities, while the availability of Special Needs Schools (Sekolah Luar Biasa/SLB) with inclusive and adequate facilities remains limited. This study aims to develop a design proposal for a Special Needs School in Makassar based on Universal Design principles to create a safe, accessible, and supportive learning environment for all users. The research adopts a design-based methodology integrating site analysis, user-based data collection, literature review, and precedent studies. Analyses focus on spatial requirements, zoning, circulation, building form, and accessibility systems to ensure inclusivity and independence for students with diverse disabilities. The results demonstrate that the application of Universal Design principles—such as barrier-free access, flexible spaces, intuitive circulation, and inclusive supporting facilities—can significantly enhance learning quality, independence, and social participation among students with disabilities. This study contributes to the discourse on inclusive educational architecture by providing a contextual design framework for Special Needs Schools in urban Indonesian settings and offers insights for future educational facility planning and policy development. Keyworsds: Universal Design; Special Needs School; Inclusive Architecture; Educational Facilities; Disability