Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pasang Surut Terhadap Refraksi Gelombang Pada Pulau Gusung Kota Makassar Risal Risal; Kasmawati; Andi Makbul Syamsuri
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/8k0ecm10

Abstract

ABSTRAK: Pulau Gusung merupakan pulau pasir di pesisir Kota Makassar yang sangat dipengaruhi oleh dinamika oseanografi, khususnya pasang surut dan gelombang laut. Variasi muka air laut akibat pasang surut diduga berpengaruh terhadap proses refraksi gelombang yang terjadi di sekitar pulau tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pasang surut terhadap refraksi gelombang pada Pulau Gusung. Metode yang digunakan meliputi analisis pasang surut dengan metode Admiralty menggunakan data tahun 2023, serta peramalan parameter gelombang melalui metode hindcasting berdasarkan data angin dan fetch periode 2019–2023. Selanjutnya dihitung koefisien refraksi gelombang pada kondisi pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan muka air laut akibat pasang surut memengaruhi kedalaman perairan sehingga menyebabkan variasi nilai koefisien refraksi gelombang. Kondisi pasang menghasilkan nilai refraksi yang berbeda dibandingkan kondisi surut. Kesimpulannya, pasang surut berperan signifikan dalam mengontrol pola refraksi gelombang di Pulau Gusung. Temuan ini berimplikasi penting bagi perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir serta mitigasi abrasi di pulau-pulau kecil. KATA KUNCI Pasang Surut, Admiralty, Tinggi Gelombang, dan Periode Gelombang.   ABSTRACT: Pulau Gusung is a sandy island located in the coastal area of Makassar City that is strongly influenced by oceanographic dynamics, particularly tides and ocean waves. Variations in sea level caused by tidal fluctuations are presumed to affect the wave refraction process occurring around the island. This study aims to analyze the influence of tides on wave refraction at Pulau Gusung. The methods employed include tidal analysis using the Admiralty method based on 2023 tidal data, as well as wave parameter prediction using the hindcasting method derived from wind and fetch data for the period 2019–2023. Furthermore, wave refraction coefficients were calculated under tidal and low-tide conditions. The results indicate that sea level variations due to tides affect water depth, leading to changes in wave refraction coefficients. Tidal conditions produce different refraction values compared to low-tide conditions. In conclusion, tides play a significant role in controlling wave refraction patterns at Pulau Gusung. These findings have important implications for coastal planning, management, and abrasion mitigation on small islands.   Keywords: Tidal, Admiralty, Wave Height and Wave Period
Analisis Penanganan Abrasi Pasca Pembangunan Dermaga di Pelabuhan Bajoe Kabupaten Bone M Yusran S; Andi Makbul Syamsuri; Hamzah Al Imran
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/mfw4vd24

Abstract

ABSTRAK: Pembangunan dermaga di kawasan pesisir berpotensi mengubah keseimbangan dinamika pantai dan memicu terjadinya abrasi di wilayah sekitarnya. Pelabuhan Bajoe di Kabupaten Bone merupakan salah satu kawasan yang mengalami abrasi pasca pembangunan dermaga, sehingga diperlukan penanganan yang tepat dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi abrasi yang terjadi serta mengevaluasi upaya penanganan abrasi di kawasan Pelabuhan Bajoe. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder, observasi lapangan, serta analisis kondisi gelombang, arus, dan perubahan garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dermaga memengaruhi pola arus dan distribusi energi gelombang, yang berdampak pada meningkatnya laju abrasi di beberapa segmen pantai. Penanganan abrasi yang direkomendasikan meliputi penerapan struktur pelindung pantai, seperti bangunan pengaman pantai, serta pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu. Kesimpulannya, penanganan abrasi pasca pembangunan dermaga memerlukan perencanaan yang mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, dan keberlanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan pelabuhan pesisir. KATA KUNCI Abrasi pantai, dermaga, fetch, Pelabuhan Bajoe.   ABSTRACT: The construction of a jetty in coastal areas has the potential to alter coastal dynamics and trigger abrasion in surrounding regions. Bajoe Port in Bone Regency is one of the coastal areas that has experienced abrasion following jetty construction, requiring appropriate and sustainable mitigation measures. This study aims to analyze abrasion conditions and evaluate post-construction abrasion handling efforts in the Bajoe Port area. The research employed a descriptive quantitative approach using secondary data, field observations, and analyses of wave conditions, currents, and shoreline changes. The results indicate that the presence of the jetty affects current patterns and wave energy distribution, leading to increased abrasion rates in several coastal segments. Recommended mitigation measures include the application of coastal protection structures, such as shore protection works, and integrated coastal zone management. In conclusion, post-jetty-construction abrasion mitigation requires planning that considers technical, environmental, and sustainability aspects. The findings of this study are expected to serve as important references for planning and managing coastal port areas. Keywords: Coastal abrasion, jetty, fetch, Bajoe Port
Dampak Variasi Tinggi Gelombang Laut terhadap Laju Erosi Pantai di Wilayah Pesisir Kalumeme Kabupaten Bulukumba Andi yusnandar Pratama; Israil Israil; Andi Makbul Syamsuri
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/07d62b59

Abstract

ABSTRAK Abrasi pantai merupakan ancaman serius bagi habitat wilayah pesisir, khususnya di Kelurahan Kalumeme, Bulukumba, yang mengalami dinamika garis pantai signifikan. Penelitian ini menganalisis pengaruh gelombang tinggi terhadap abrasi selama tahun 2020–2024 menggunakan pendekatan kuantitatif: analisis data sekunder (angin, gelombang, pasang surut dari BMKG) dan pemodelan spasial dengan Digital Shoreline Analysis System ( DSAS ) di ArcGIS . Hasil menunjukkan dominasi arah angin dan gelombang dari Timur (32,87%–50,95%) dan Barat (15,84%–21,64%), dengan pengambilan efektif terpanjang 29.198 m dari arah barat daya. Tinggi gelombang maksimum 0,56 m terjadi pada Februari 2021, menghasilkan energi gelombang tertinggi. Pemodelan garis pantai mengungkap abrasi sebesar −87,2 m (rata-rata −26,21 m/tahun) dan akresi +194,6 m (+58,5 m/tahun). Korelasi spasial menunjukkan pengaruh kuatnya gelombang tinggi terhadap laju abrasi, terutama pada segmen pantai yang langsung terkena gelombang dominan. Temuan ini menjadi dasar ilmiah untuk perencanaan mitigasi abrasi berbasis ekosistem maupun struktur pantai yang adaptif terhadap dinamika gelombang. Kata Kunci: Abrasi, Tinggi gelombang, Fetch, DSAS, Kalumeme ABSTRACT Coastal abrasion poses a serious threat to the sustainability of coastal areas, particularly in Kalumeme Village, Bulukumba, which experiences significant shoreline dynamics. This study analyzes the effect of wave height changes on abrasion during 2020–2024 using a quantitative approach: secondary data analysis (wind, waves, tides from BMKG) and spatial modeling with the DigitalA Shoreline Analysis System (DSAS) in ArcGIS. The results show dominant wind and wave directions from the East (32.87%–50.95%) and West (15.84%–21.64%), with the longest effective fetch of 29,198 m from the southwest. The maximum wave height of 0.56 m occurred in February 2021, generating the highest wave energy. Shoreline modeling revealed abrasion of −87.2 m (average −26.21 m/year) and accretion of +194.6 m (+58.5 m/year). Spatial correlations demonstrate a strong influence of wave height on abrasion rates, particularly in coastal segments directly exposed to dominant waves. These findings provide a scientific basis for ecosystem-based abrasion mitigation planning and coastal structures that adapt to wave dynamics. Keyworsds: Erosion, Wave height, Fetch, DSAS, Kalumeme