Industri semen dan baja masing-masing menyumbang beban lingkungan yang besar, baik berupa emisi karbon dari proses kalsinasi maupun limbah hasil peleburan besi seperti Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) yang berpotensi dimanfaatkan sebagai Supplementary Cementitious Material (SCM). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi rasio tulangan dan umur beton terhadap kuat lentur balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS sebesar 40%. Penelitian eksperimental dilakukan menggunakan balok beton bertulang berukuran 100 × 10 × 20 cm dengan faktor air semen 0,35, variasi rasio tulangan 0,00872 dan 0,01310, serta umur beton 28 dan 56 hari. Pengujian kuat lentur dilakukan menggunakan metode two-point loading, kemudian data dianalisis berdasarkan beban maksimum, tegangan lentur, regangan, lendutan, dan uji statistik Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tulangan dan umur beton berpengaruh signifikan terhadap tegangan lentur (Sig. < 0,05). Peningkatan rasio tulangan meningkatkan rata-rata beban maksimum hingga 37,80% dan tegangan lentur maksimum hingga 19,24%, sedangkan peningkatan umur beton meningkatkan rata-rata tegangan lentur sebesar 3,37% disertai peningkatan regangan dan lendutan. Selain itu, balok dengan substitusi GGBFS 40% menunjukkan kapasitas beban dan tegangan lentur yang sedikit lebih tinggi dibandingkan beton normal. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan GGBFS 40% berpotensi menjadi alternatif material semen yang lebih berkelanjutan tanpa mengurangi kinerja lentur balok beton bertulang. Kata kunci: GGBFS, kuat lentur, rasio tulangan, umur beton, balok beton bertulang