Dina Asrifah
Program Studi Teknik Lingkungan, UPN “Veteran” Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perencanaan Revitalisasi TPS Tambakboyo Di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Qurrotul A’yun; Farhan Adhi Pranata; Laire Sukma Arti Suci; Rosana Aura Ardhiany; Dina Asrifah; Mochamad Mussoddaq
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 7 No 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-VII
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v7i1.16822

Abstract

Tempat Penampungan Sementara (TPS) Tambakboyo yang berlokasi di Padukuhan Dero, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman saat ini belum memenuhi kriteria pengelolaan sampah yang ditetapkan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi revitalisasi TPS Tambakboyo menjadi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang layak dan sesuai dengan standar pemerintah berdasarkan analisis karakteristik sampah. Metode penelitian mengacu pada SNI 19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan, dengan pengambilan sampel dilakukan selama 6 hari berturut-turut. Hasil analisis menunjukkan rata-rata timbulan sampah sebesar 0,3 kg/orang/hari dengan komposisi sampah organik mendominasi sebesar 49% dari total timbulan, sampah kertas 22%, sampah plastik 21%, dan residu 8%. Tingginya proporsi sampah organik mengindikasikan potensi besar untuk penerapan teknologi pengomposan, sementara persentase sampah plastik dan kertas yang signifikan menunjukkan peluang untuk program daur ulang menjadi bahan Refuse Derived Fuel (RDF). Revitalisasi TPS Tambakboyo menjadi TPS 3R diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sampah sesuai kriteria pemerintah, mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), meningkatkan nilai ekonomis sampah, serta menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Rekomendasi revitalisasi meliputi penyediaan infrastruktur pengomposan, fasilitas pemilahan, dan penyimpnana sementara yang memenuhi standar teknis TPS 3R sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2017.
Evaluasi Kinerja Kolam Pengendapan Air Asam Tambang Berdasarkan SNI 6774:2008 (Studi Kasus: Ambrosia Pond, PT Kaltim Prima Coal) Tiara Meylani Putri; Dina Asrifah
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 7 No 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-VII
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v7i1.16826

Abstract

Air Asam Tambang (AAT) merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama pada kegiatan pertambangan batubara karena memiliki pH rendah dan kandungan logam terlarut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja kolam pengendapan Ambrosia di PT Kaltim Prima Coal dalam pengolahan AAT serta menilai kesesuaiannya dengan standar desain menurut SNI 6774:2008. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, pengukuran dimensi kolam, pengambilan sampel air, serta pengujian kualitas air pada bagian inlet dan outlet selama 7 hari berturut-turut. Parameter yang diuji meliputi pH, TSS, Fe, dan Mn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolam pengendapan Ambrosia mampu meningkatkan nilai pH dari rata-rata 3,09 menjadi 7,83. Konsentrasi Fe mengalami penurunan dari rata-rata 19,28 mg/L menjadi 1,18 mg/L, sedangkan Mn menurun dari 8,57 mg/L menjadi 3,19 mg/L, sehingga keduanya memenuhi baku mutu masing-masing 7 mg/L untuk Fe dan 4 mg/L untuk Mn. Parameter TSS juga menurun dari rata-rata 52,9 mg/L menjadi 4,1 mg/L masih jauh di bawah baku mutu 300 mg/L. Analisis hidraulik menunjukkan bahwa aliran dalam kolam bersifat laminar dan subkritis, namun kedalaman kolam eksisting sebesar 2 meter belum sesuai dengan rekomendasi SNI 6778:2008 yang mensyaratkan minimum kedalaman kolam pengendapan adalah 3 meter. Secara keseluruhan, sistem pengolahan aktif yang diterapkan telah efektif dalam mengurangi dampak AAT, namun diperlukan optimalisasi desain untuk mencapai kinerja yang lebih berkelanjutan.