Gaya hidup mayarakat modern, khususnya dalam konteks digital mengalami perubahan, dari segi konsumssi saat ini, sehingga menimbulkan kebingungan memilih antara kebutuhan untuk mengelola keuangan secara bijak atau memenuhi kebutuhan menjaga kesehatan mental melalui apresiasi diri (self-reward). Fenomena tersebut sering terjadi dikalangan generasi yang cenderung mengambil keputusan secara spontan tanpa pikir panjang karena akibat paparan e-commerce, proposi digital, dan budaya matrealistik. Sementara prinsip mengelola keuangan secara bijak (frugal living) menekankan perlindungi harta untuk jangka panjang. Kedua praktik tersebut berpotensi berubah menjadi kikir dan boros. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip teologis terkait konsumsi melalui hadis saḥiḥ serta merumuskan model keseimbangan wasatiyyah yang dapat menjadi panduan praktis untuk menentukan batas yang wajar anatara menghemat dan apresiasi diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis isi, dengan menelaah hadis-hadis seperti larangan israf, konsep kekayaan hati serta prinsip keadilan dalam pembagian hak-hak. Hasil dari penelitian ini konsumsi yang moderat hanya dapat dicapai ketika frugal living dilakukan dengan bijak dan pengelolaan harta secara bertanggung jawab, bukan sebagai pengabaian kebutuhan diri, dan self-reward dilakukan secara terukur tanpa melampaui batas kesederhanaan yang diajarkan Nabi, keduanya saling melengkapi dalam membentuk gaya hidup yang stabil, sehat dan sesuia etika Islam dengan menggunakan model keseimbangan berbasis hadis.