This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Lydia Agustina
K.H. Idham Chalid Ciawi Regional Hospital

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hemichorea-Hemiballismus as the Initial Presentation of Cerebral Toxoplasmosis With Unusual Serology in an HIV-Positive Patient: A Rare Case Report M. Miladi Fauzan; Ismi Adhanisa Hamdani; Maula N. Gaharu; Lydia Agustina; Hari Andang Sasongko
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60944

Abstract

Toksoplasmosis serebral merupakan infeksi oportunistik sistem saraf pusat yang paling sering ditemukan pada pasien dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) stadium lanjut. Manifestasi klinis yang umum meliputi sakit kepala, demam, kejang, perubahan status mental, atau defisit neurologis fokal, sedangkan gangguan gerakan seperti hemikorea-hemibalismus (hemichorea-hemiballismus/HCHB) sangat jarang dijumpai sebagai manifestasi awal penyakit. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki berusia 42 tahun tanpa riwayat penyakit neurologis sebelumnya yang datang dengan keluhan gerakan involunter yang muncul secara mendadak pada ekstremitas atas dan bawah kanan selama tiga hari, disertai disartria ringan. Pemeriksaan neurologis menunjukkan gerakan melempar (flinging) dan koreiform yang ireguler, tidak berirama, serta berlangsung terus-menerus, sesuai dengan gambaran HCHB. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan pasien reaktif HIV dengan imunosupresi berat yang ditandai oleh jumlah limfosit T CD4+ sebanyak 16 sel/µL. Evaluasi serologis menunjukkan imunoglobulin G (IgG) Toxoplasma gondii positif dan imunoglobulin M (IgM) negatif, yang mengindikasikan reaktivasi infeksi toksoplasmosis laten dibandingkan infeksi primer. Pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) otak dengan kontras memperlihatkan lesi multipel dengan ring enhancement yang melibatkan ganglia basalis kiri dan talamus disertai edema vasogenik luas di sekitarnya, suatu gambaran yang sangat mengarah pada toksoplasmosis serebral yang mengenai sirkuit ganglia basalis yang berperan dalam pengendalian gerakan. Pasien mendapatkan terapi standar antitoksoplasma berupa pirimetamin, sulfadiazin, dan leukovorin, yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian terapi antiretroviral (ART). Setelah tiga minggu pengobatan, tampak perbaikan klinis yang bermakna berupa berkurangnya gerakan involunter secara signifikan, disertai regresi radiologis lesi pada pemeriksaan pencitraan lanjutan. Kasus ini menegaskan bahwa HCHB, meskipun jarang, dapat menjadi manifestasi awal toksoplasmosis serebral pada pasien dengan infeksi HIV stadium lanjut. Pengenalan dini terhadap manifestasi neurologis atipikal, yang didukung oleh pemeriksaan neuroimaging, evaluasi serologis, serta pemberian terapi antimikroba dan antiretroviral secara tepat waktu, sangat penting untuk menegakkan diagnosis secara akurat, memperbaiki luaran neurologis, dan mencegah terjadinya sekuele neurologis yang bersifat permanen.